header cah kesesi ayu tea

Melestarikan Tradisi Perayaan 1 Suro

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki gugusan pulau terpanjang dan terbesar di dunia. Indonesia bukan hanya memiliki kekayaan sumber daya alam saja, melainkan juga memiliki kekayaan kebudayaan yang dimiliki oleh suku bangsa Indonesia yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar. Nah, salah satu kebudayaan yang hingga saat ini masih lekat bagi masyarakat Indonesia adalah tradisi peringatan tahun baru Islam 1 Muharram atau oleh suku Jawa disebut 1 Suro.

sumber: indonesiakaya

Tahun Baru Islam 1 Muharam 1443 H yang jatuh pada Selasa (10/8/2021) kemarin disambut dengan berbagai cara oleh masyarakat Indonesia. Apalagi bagi masyarakat Jawa, pergantian tahun baru Islam yang sering disebut sebagai 1 Suro dianggap sebagai malam sakral dan disucikan. Tak mengherankan meskipun masih di tengah pandemi Covid 19 tradisi perayaan 1 Suro tetap dilakukan oleh masyarakat Indonesia, tentunya dengan cara dan prosesi yang berbeda dari tahun-tahun sebelum ada pandemi.

Perayaan malam 1 Suro di Indonesia memang menjadi salah satu warisan budaya yang secara turun temurun masih dijaga dengan baik oleh masyarakat. Hal itu dikarenakan masing-masing daerah memiliki cara tersendiri dalam memperingati malam pergantian tahun Hijriah (Islam) dan Saka (Jawa). Harus diakui bahwa akulturasi dengan budaya daerah setempat seringkali menghasilkan tradisi unik di sejumlah daerah tersebut pada saat peringatan malam 1 Suro.

Jika kita membaca sejarahnya, penetapan 1 Suro sebagai Tahun Baru Jawa (Saka) sudah diperingati sejak zaman kerajaan Mataram Islam (1613-1645) yang dipimpin oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Saat itu, Sultan Agung mendapatkan gelar Wali Radja Mataram dari para pemuka agama Islam. Gelar tersebut diberikan sebagai penghargaan kepada beliau karena dianggap berjasa dan berhasil dalam melakukan akulturasi antara agama Islam dan budaya Jawa tanpa menghapuskan tradisinya. Salah satunya bentuk akulturasi tersebut adalah penyatuan kalender Hijaiyah dan kalender Saka. Proses tersebut dimulai sejak Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi. Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Suro, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriyah.

Tradisi 1 Suro; Keanekaragaman Budaya Indonesia

Menurut Muhammad Solikhin dalam “Misteri Bulan Suro, Perspektif Islam Jawa”, Dari Sultan Agung inilah kemudian pola peringatan tahun Hijriah dilaksanakan secara resmi oleh negara kita, dan kemudian diikuti seluruh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa. Berbagai ritual perayaan 1 Muharram/ 1Suro di Indonesia terus lestari sampai sekarang berkat jasa Sultan Agung.

Tradisi malam satu Suro yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia sesungguhnya memiliki tujuan untuk ketentraman batin dan keselamatan manusia. Karenanya saat itu prosesi yang utama dilakukan adalah ritual pembacaan doa dari semua orang yang hadir merayakannya. Meskipun cara dan prosesinya yang berbeda-beda antara masyarakat satu dengan yang lainnya, namun disinilah sesungguhnya letak keanekaragaman budaya Indonesia yang sangat unik dan patut untuk terus dilestarikan.

Berikut ini diantara tradisi 1 Suro yang dilakukan oleh masyarakan Indonesia:

1. Tradisi Tabuik, Pariaman (Padang)

Di Pariaman, Provinsi Sumatra Barat, orang menyambut Tahun Baru Islam (1 Suro) melalui gelaran upacara Tabuik atau ada yang menyebut Tabut. Tradisi itu sendiri sesungguhnya merupakan prosesi untuk memperingati hari Asyura pada 10 Muharram. Upacara Tabuik dilakukan dengan tujuan untuk mengenang perjuangan dan wafatnya Imam Husain Cucu, Nabi Muhammad SAW dalam peperangan di Karbala saat membela tegaknnya agama Islam.
Sumber: kompasiana

Upacara Tabuik sendiri mewakili cerminan sikap dan pola hidup masyarakat Pariaman, Sumatera Barat. Upacara ini erat kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan sosial budaya masyarakat setempat. Sehingga tiak mengerankan jika akhirnya Tabuik dijadikan sebuah tradisi masyarakat Pariaman yang dilaksanakan oleh Anak Nagari dalam bentuk Tabuik Budaya.

2. Tradisi Gerebeg Suro di Ponorogo (Jawa Timur)

Masyarakat Ponorogo Provinsi Jawa Timur merayakan pergantian tahun baru Islam dengan tradisi Grebeg Suro. Tradisi ini memiliki ciri khas yang sangat kental akan budaya Bumi Ponorogo. Grebeg Suro terdiri dari beberapa rangkaian acara, seperti festival reog, pawai lintas sejarah, kirap pusaka, dan larungan sesaji serta risalah do’a. Bukan itu saja, warga Ponorogo juga melakukan tirakatan yaitu tidak tidur semalaman demi memperingati 1 Suro.

reog di Grebeg Suro
sumber: Travel - tribunnews

Gerebeg Suro sesungguhnya memiliki makna luhur, yaitu semangat untuk menjaga rasa solidaritas, gotong-royong, persatuan, dan mencerminkan rasa cinta terhadap kearifan lokal masyarakat Ponorogo. Oleh sebab itulah ritual ini biasanya melibatkan seluruh elemen masyarakat Ponorogo, mulai anak-anak sampai dengan sesepuh.

3. Tradisi Kirab Kebo Bule, Surakarta (Jawa Tengah)

Di Keraton Surakarta, Solo, Jawa Tengah setiap peringatan malam 1 Suro memiliki ritual yang unik yaitu digelarnya kirab kebo bule yang berjuluk kyai Selamet. Kerbau sendiri memiliki makna yang sangat penting dalam sejarah Keraton Surakarta. Mengutip Majalah Pelestarian Budaya Adiluhung, kebo bule ini memiliki nama dan konon dianggap sebagai hewan keramat oleh masyarakat setempat. Kirab malam 1 Suro menjadi tradisi tahunan yang dilakukan oleh Keraton Kasunanan Surakarta. Kirab ini sesungguhnya merupakan bentuk rasa syukur dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik pada masa sekarang dan yang akan datang.

sumber: solovent

Kirab yang dipimpin Kebo Kyai Selamet itu biasanya dilakukan dengan berjalan menuju arah timur melewati Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, lalu Jalan Slamet Riyadi, hingga bunderan Gladag dan kembali lagi menuju keraton. Keunikan lainnya adalah, bahwa telethong (tinja) kebo bule dianggap sebagai kelangenan (keistimewaan) bagi masyarakat sekitar keraton. Masyarakat percaya bahwa kotoran kebo Kiai Slamet menyiratkan makna akan tradisi agraria Kerajaan Mataram saat dulu, dimana kerbau sebagai penarik bajak, kotoran kerbau untuk pupuk. Selain kirab, 1 Suro di Surakarta juga dilakukan tradisi membuat sesaji, dimana masyarakat percaya bahwa sesaji pada malam 1 Suro dipercaya bisa memberikan keselamatan dan berkah.

4. Upacara Bubur Suro, Jawa Barat

Masyarakat Sunda biasanya menyambut Tahun Baru Islam dengan Upacara Bubur Suro. Pada dasarnya ritual ini dilakukan untuk memperingati tahun baru Islam dan mengenang peristiwa 10 Muharam di mana Imam Husain Cucu, Nabi Muhammad SAW wafat dalam peperangan di Karbala. Dalam prosesi tersebut, masyarakat Sunda akan menyiapkan bubur merah dan bubur putih yang disajikan secara terpisah kemudian dibawa ke masjid. Di masjid itulah, orang-orang memperingati 1 Suro dengan berbagai macam ritual salah satunya adalah doa bersama demi kesalamatan dan kebaikan bersama lalu kemudian memakan bubur suro bersama-sama.

sumber: suara dot com

Kalau bagi masyarakat Sunda Bubur Suro adalah bubur merah dan putih, lain lagi di suku Jawa tradisi bubur Suro juga dilakukan. Bedanya Bubur Suro masyarakat Jawa adalah perpaduan 7 unsur, yaitu: 7 jenis kacang (kacang tanah, kacang hijau, kacang mede, kacang bogor, kacang tolo, kacang kedelai dan kacang merah), sirih lengkap, kembang mayang, keranjang buah (7 jenis buah), biji-bijian, opor ayam, serta labu siam.

5. Tapa Bisu Mubeng Beteng (Yogyakarta)

Tradisi tapa bisu mubeng beteng biasa dilakukan masyarakat Yogyakarta tiap malam 1 Suro. Mubeng beteng atau berjalan mengelilingi benteng Keraton Kasultanan Yogyakarta adalah tradisi yang terbuka untuk umum. Mengutip buku “Wisata Ziarah” karya Gagas Ulung, syarat mengikuti tradisi ini adalah peserta harus diam, tidak berkata- kata, berjalan kaki memutari benteng kurang lebih 5 km sebanyak sekali, tiga kali ataupun lebih asalkan dalam jumlah ganjil. Tujuannya untuk mendengarkan suara hati dan nurani.

sumber: Okezone

Menurut sejarah, tradisi mubeng beteng (keliling benteng) tanpa berbicara ini diprakarsai oleh Sultan Agung, Raja Mataram Islam pertama. Pada masa dahulu, ritual ini dilakukan oleh para prajurit Keraton, dalam rangka mengamankan lingkungan Keraton karena saat itu belum ada benteng yang mengitari lingkungan Keraton. Ritual ini dilakukan dengan cara memutar dari sisi kiri atau barat Keraton, arah ini sesuai falsafah Jawa yang memiliki makna kiwo, yang berarti tujuan mubeng beteng adalah ngiwake atau membuang hal-hal buruk.

6. Tradisi Nganggung, Bangka Belitung

sumber: hello indonesia

Lain cara yang dilakukan oleh masyarakat Bangka Belitung dalam merayakan 1 Muharram dengan tradisi Nganggung, yang berarti makan bersama. Warga bakal berkumpul dan menikmati makanan yang disajikan secara bersama-sama, tujuannya tak lain adalah sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah dianungerahkan kepada masyarakat.

7. Pawai Obor (Indonesia)

sumber: liputan6

Salah satu tradisi memperingati 1 Muharram/1 Suro yang umum dilakukan adalah pawai Obor. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh banyak masyarakat di Indonesia, khususnya para santri. Kirab dan pawai obor bertujuan untuk menyemarakkan malam tahun baru Hijriyah sebagaimana perayaan malam tahun baru masehi.

Menjaga dan Melestarikan Tradisi 1 Suro

Melestarikan budaya artinya ikut menjaga lingkungan. Tradisi peringatan 1 Suro/1 Muharram bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi salah satu budaya yang harus senantiasa dilestarikan masyarakat. Bukan hanya sekedar tradisi perayaan, melainkan di dalamnya banyak sekali nilai-nilai luhur yang patut untuk dijadikan teladan. Ritual dalam perayaan tradisi 1 Suro banyak sekali mengandung nilai-nilai penting bagi masyarakat Indonesia diantaranya nilai spiritual, sosial, pendidikan, kesenian, serta ekonomi.

Meskipun secara ritual perayaan 1 Muharram/1 Suro banyak perbedaan antara satu daerah dengan daerah lainnya justru hal itu menunjukkan keanekaragaman budaya yang dimiliki bangsa ini. Hal itu pula yang membuat bangga saya sebagai masyarakat Indonesia, karena memiliki ragam budaya yang unik dan keren. Saya bangga menjadi Indonesia.

#IndonesiaBikinBangga #UntukmuBumiku

SUMBER:
https://tirto.id/tradisi-malam-1-suro-di-keraton-solo-kirab-kebo-bule-kyai-slamet-gisF
https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/perayaan-satu-suro-tradisi-malam-sakral-masyarakat-jawa/

Noorma Fitriana M. Zain
Noorma Fitriana M. Zain, seorang Ibu Rumah Tangga dengan dua anak perempuan yang cantik, hobby menulis dan berselancar di dunia maya, Ia berasal dari Kesesi - Pekalongan, dan kini domisili di Semarang. Lulusan Pascasarjana Unnes ini bercita-cita ingin menjadi Abdi Pendidikan yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Amin

Related Posts

12 comments

  1. ternyata banyak sekali ya tradisi saat 1 suro di Indonesia

    ReplyDelete
  2. Tradisi dan budaya menarik yang bener-bener terpelihara ya sampai sekarang... Meski sudah 2 tahun ini gak berkegiatan semacam ini..tapi semangat melestarikan budaya memang harus dipertahankan...

    ReplyDelete
  3. Ritual budaya seperti 1 Suro ini ternyata beragam ya. Tiap daerah punya konsep masing-masing. Dan jujur saya baru tahu kalo di daerah Jawa Barat ada tradisi upacara bubur Suro. Makasih infonya mba Noorma

    ReplyDelete
  4. saya pernah menyeksikan peringatan 1 Suro di Surakarta dan masyarakat adat Cireundeu, Cimahi

    Meriah banget, apalagi di Cireundeu diperingati 2 hari 1 malam dengan berbagai pertunjukan dan ritual

    ReplyDelete
  5. Jadi inget waktu tinggal di Kalsel apa pas di Kapri ya, kalau nggak salah ada perayaan satu sura juga. Budayanya mereka bikin bubur pas khusus 1 sura itu.

    ReplyDelete
  6. Tahun tahun sebelumnya di tempatku juga mengadakan acara 1 suro dengan keliling desa, malamnya diadain oleh organisasi keagamaan dan siangnya diadain oleh komunitas budaya. Tapi 2 tahun ini gak bisa diadakan karena pandemi dan menimbulkan kerumunan

    ReplyDelete
  7. Kalo di tempat kami, Bengkulu namanya Tabot kak. Biasanya pas 1-10 muharram ada juga pameran mulai dari makanan sampai pernak pernik lengkap. Singkatnya, Pas hari ke 10 tabotnya dibuang ke laut.
    Jadi kangen. Udah 2tahun gk bisa rame-ramean ngerayaan nya

    ReplyDelete
  8. Karena tulisan kak Noorma, aku jadi ingin menonton Film Sultan Agung yang sudah tayang di VIU niih..
    Perayaan Suro bagi orang Jawa memang memiliki makna tersendiri yaa..

    ReplyDelete
  9. wah banyak juga ya, mbak perayaan 1 suro ini di berbagai daerah. kalau di daerahku nggak ada sih acara buat 1 muharram. biasanya adanya buat 10 muharram bikin bubur assura

    ReplyDelete
  10. Indonesia itu kaya mbak
    termasuk dalam merayakan satu suro ini, banyak cara masyarakat merayakannya

    ReplyDelete
  11. Buatku, Malam 1 suro selalu menimbulkan kesan agak horor ya. Padahal ada banyak cerita bersejarah yang layak dikulik perihal perayaan Malam 1 Suro dari berbagai daerah ya. Indonesia memang kaya akan budaya.

    ReplyDelete
  12. Hai, terima kasih sudah berbagi informasi yang menarik

    Salam literasi
    walisongo.ac.id

    ReplyDelete

Post a Comment