Skip to main content

Iuran JKN (BPJS) Naik. Siap?

Postingan ini postingan curhat, ya.. Hehe

Sebenarnya sudah sejak awal bulan Maret lalu saya mengetahui desus-desus kenaikan iuran JKN mandiri. Membaca kronologi alasan kenapa iuran 'terpaksa' naik, saya memahami itu. Dan, dalam hati saya bilang "yaa udiiinn siih gak papa kalau memang itu bisa mengurangi minus-minus yang ada di pemerintah".

Jadi awalnya saya masih punya sedikit harapan dan angan-angan, kalau tarif yang naik diberlakukan untuk peserta baru yang baru daftar, dan peserta lama tetep make tarif lama. Hehehe.. Ternyata enggak. Semuanya naik. Oke deh.. Legowo aja gitu tarif mau naik, tapi tetap ada rasa gimanaaa gitu ya. Karena saya belum punya penghasilan yang teratur, terarah, dan ter ter ter yang lain. Hihihi. Dari iuran awal Rp59.500 / orang, sekarang naik @20.500 perorang dikalikan tiga orang (Suami, anak, dan saya) memang terasa banget. Apalagi kalau bayarnya di minimarket yang kerjasama, di mana ada biaya administrasi @2.500. Hehe.. Wahh, bisa-bisa makin bengkak pengeluaran.

Saya bukannya mengeluh, justru ini jadi motivasi saya untuk bisa terus bekerja berusaha untuk terus bisa tanggungjawab dengan apa yang sudah saya punyai. Sebisa mungkin tidak nunggak. Sebisa mungkin tepat waktu. Dan, orang-orang yang masih banyaj tunggakan untuk bisa segera diselesaikan tunggakannya. Kasian jadinya, kalau pengeluaran membludak dan akhirnya minusnya makin banyak.

Meskipun awalnya terasa berat, tapi saya terus berusaha untuk positive thinking. Lagipula dengan kaya gini, saya menjadi semangat mencari rezeki. Karena tanggungan bulanan saya bukan hanya untuk bayar iuran JKN. Tetapi ada untuk bayar sekolah Noofa yang jumlahnya juga lebih banyak dari tagihan JKN. Hehe. Dan kreditan lain seperti kreditan sepatu, make up, dan baju. Duuh yoh, kreditane akeh meni koan. Hahaa


Bulan ini, April 2016. Pertama kalinya saya membayar iuran dengan harga baru. Kelas 1 sebesar 80.000/ orang. Terasa banget, sih. Tapi tidak lantas saya bete kemudian nggak bayar iuran loh ya. Kalau numpuk sampe nunggak, yang rugi saya sendiri. Abi juga bilang "nggak, papa naik. Ikhlas saja. Semampu kita. Insya Allah ada rezeki untuk bayar iuran tiap bulan". Denger kalimat dari Abi, saya jadi tenang. Yaa walaupun tiap bulan harus kembang kempis untuk ini dan itu, Gusti Allah mboten sare. Insya Allah bisa.

Apalagi dalam waktu dekat saya pengen banget ngadain giveaway di blog ini. Kudu lebih semangat, duonk. Kudu siap. Lagian siap nggak siap juga tetep naik, kan? Hehehe..

Comments

Popular posts from this blog

Granuloma Umbilikalis Pada Bayi

Assalamu’alaikum, sahabatku.. semoga selalu sehat, ya. Amin. . . Postingan kali ini saya mau bercerita tentang Granuloma Umbilikalis Pada Bayi . Ini tentang Nooha, anak kedua saya yang lahir pada tanggal 5 Januari 2017 yang lalu. Sampai hari ini usianya sudah 3 bulan 4 hari. Alhamdulillah dia tumbuh dengan baik, sehat, dan ceria. Harapannya tentu seperti itu, bukan? Tetapi, ada sesuatu yang pernah membuat saya khawatir, yaitu masalah tali pusarnya. Dia puput usia 7 hari, tapi saya melihat pada pusarnya itu masih ada yang basah, jadi proses lepasnya puput itu seperti belum waktunya gitu. Dan benar saja setiap hari ada bekas seperti nanah pada kaos dalamnya. Kalo saya ibaratkan itu seperti lelehan lilin yang menempel di kaos. Baunya khas tapi tidak seperti bau nanah, enggak pesing, ataupun bau enggak enak lainnya. Setiap hari ada bekasnya di kaos, sesekali membesar berwarna merah, seperti daging tumbuh. Nanti meleleh lagi, terus seperti itu setiap hari. Saya takut k

USAHA MIKRO; TETAP BERTAHAN DI TENGAH PANDEMI BERSAMA PIP

Kurang lebih 6 bulan masyarakat Indonesia berperang melawan pandemi Covid-19, dan hingga saat ini perang tersebut belum ada indikasi berakhir. Pandemi Covid-19 di Indonesia yang diketahui sejak awal bulan Maret 2020 harus memaksa sebagian besar masyarakat Indonesia untuk membatasi aktivitasnya agar penularan dapat dicegah. Dampak dari pembatasan tersebut mengakibatkan berbagai sektor terkena imbas akibat terhentinya aktivitas masyarakat. Di antara sektor yang paling parah terkena dampak Covid 19 adalah sektor ekonomi. Bukan hanya dalam skala makro, pandemi Covid-19 ini pun menghantam sektor mikro, bahkan tak tanggung-tanggung para pedagang kecil dan pelaku UMKM juga terkena imbasnya. Bahkan tidak sedikit dari mereka harus gulung tikar dan tidak dapat melanjutkan usahanya karena mengalami banyak kerugian, mulai dari turunnya pendapatan, hingga tidak lakunya barang-barang hasil produksi mereka.  Jika kita mau menengok lebih dalam lagi, UMKM di Indonesia sangat banyak jumlahnya, usaha ini

Mencetak Kemasan Makanan di Uprint untuk Usaha Snack

Halo, Assalamu’alaikum.. Apa kabar, Februari udah berjalan satu pekan, nih, dan di beberapa mini market udah mulai banyak bertebaran promosi coklat dan segala macam yang berhubungan dengan valentine. Saya sendiri sih enggak pernah merayakan hari Valentine secara khusus, ya. karena menurut saya semua hari sama saja, saya selalu memberikan rasa sayang dan cinta kepada pasangan... pun dengan sesama, eaaa... Kamu pernah ngeh nggak kalau kemasan masakan untuk coklat, kue, permen menjelang Valentine itu lucu-lucu. Saya sih selalu ngeh, bahkan beberapa kali pernah kepincut dan membeli coklat karena suka dengan kemasannya. Kalau Valentine begini mah kebanyakan kemasan warna pink gitu, ya. Tapi ada juga beberapa coklat yang kemasannya selain warna pink. Ngomongin masalah kemasan. Saya jadi ingat teman saya yang buka usaha kuliner snack/jajanan. Tapi dia bingung soal design kemasannya. Namanya usaha kuliner begitu kan hal yang pertama dipikirkan tentu soal personal bran