Skip to main content

Kenangan Masa Kecil: Sering Diajak Bapak


Asslamu’alaikum temen-temen blogger semua.. apa kabar?

Semoga selalu dalam keadaan sehat dan afiyat, ya. Aamiin..

Temen-temen pasti pernah jadi anak kecil, kan? Pernah  donk ya, kan sekarang udah besar, udah dewasa, sebagaian dari kalian juga sudah berkeluarga dan punya anak, bahkan ada juga yang sudah punya cucu. Hehe..

Oiya.. temen-temen pernah nggak, lihat gambar meme lucu yang di dalam gambar itu ada tulisan “yang pernah ngumpulin bungkus permen karet yosan buat jadi uang-uangan berarti masa kecil kalian bahagia”? atau gambar permainan congklak, gaburan, jengklek, main karet, gambar daun teh-tehan, dan beberapa gambar lain yang dibuat meme. Si meme tersebut  memang sengaja dibuat untuk nostalgia dengan masa kecil kita. Uuhh,, kalau lihat gambar tersebut kita langsung inget masa kecil dan seketika kepala terangguk-angguk setuju.. hihihi..

Apa iya, sih. Masa kecil itu selalu menyenangkan? Enggak juga, nyatanya saya pernah jadi korban bully. Menyakitkan! Bully yang saya dapatkan berupa bully verbal, diejek, dikata-katain, baik ngejek fisik, maupun ngejek hal lain seperti fitnah-fitnah keluarga. Tapi, kali ini saya enggak mau cerita soal bullying, ah. Bikin jadi sesek napas kalau inget. hiks

Namun percaya atau tidak, efek dari bullying itu selain bisa bikin korbannya menjadi anak yang minderan, ternyata juga bisa bikin korbannya menjadi orang yang kuat dan tegar. Tergantung siapa korbannya, bagaimana menanggapinya, dan siapa saja orang-orang di sekeliling korban tersebut. Jika saya kuat hati, kapan-kapan saya tulis, tapi kalau nggak kuat, ya biarlah saya simpen saja sebagai pembelajaran kehidupan bahwasanya memang hidup itu yaa gitu, ada suka ada duka. Karena menjadi korban bully untuk move on nggak semudah membalik telapak tangan.


Lalu “Kenangan masa kecil yang paling membekas di ingatan” saya apa sih? Selain bullying itu sebenarnya banyak, karena Alhamdulillah saya dilahirkan di dalam keluarga yang hangat dan akrab. Bapak ibu saya memposisikan mereka seperti teman bagi saya, sedari kecil saya dibiasakan terbuka, mengutarakan keinginan, bebas berpendapat, dan gak ada rahasia (kalau ada apa-apa ya diomongin). Sehingga walaupun saya pernah menjadi korban bullying, bapak ibu saya terus menyuport saya, meyakinkan saya kalau bullying itu bukan menjadi pengganggu hidup saya. Di situ, saya merasa sangat bersyukur, sehingga sekarang ini saya menjadi seperti sekarang ini. Kalau bukan keluarga yang mendukung, entah bagaimana saya sekarang. J (((yaa walaupun masih cengeng)))

Cerita masa kecil yang paling membekas dalam ingatan saya adalah waktu kecil saya sering diajak bapak pergi, ke mana saja selain urusan dinas seringnya bapak ngajakin saya. Eh tapi pernah juga ding saya ikut ke sekolahan tempat bapak saya ngajar. Malahan di sana saya duduk di kursi guru sembari ngelihatin bapak ngajar. Katanya sih biar saya tahu bagaimana jadi guru itu dan kelak saya bisa jadi guru juga. Hihihi.

Kalau bapak pergi kerja sampingan juga ngajak saya, dulu bapak jadi tukang foto, jadi kalau bapak kerja jadi tukang foto di nikahan orang saya diajak. Atau saat ngajar QIRO’AH, bapak juga ngajak saya. Jadi saya bisa sekalian belajar, kan?

Pernah juga waktu bapak ngisi pengajian di Pemalang, bapak ngajak saya. Dengan begitu saya banyak tahu tentang kegiatan bapak di luar rumah. Pernah saya tanya ke bapak, kenapa saya yang sering diajak kalau bapak pergi. Bapak menjawab supaya saya terbiasa dengan kehidupan luar rumah. Waktu ibu hamil saya, bapak dan ibu transmigrasi ke Lubuk Linggau Sumatra Selatan, katanya punya tujuan supaya saat saya besar nanti saya terbiasa merantau dan jadi anak yang kuat. Hehe.. jawabannya lucu, ya. Tapi harapan bapak dulu sudah terlaksana, kok. Karena lulus SD saya juga sudah belajar merantau, sekolah sambil nyantri di Pondok Pesantren Daaru Ulil Albaab Tegal. Bapak kepengen saya menjadi anak yang mampu mandiri, tidak cengeng, dan tegar. Oiya Justru dengan saya nyantri dan hidup tanpa orang tua, saya bisa belajar menyelesaikan masalah yang saya hadapi sendiri. Di Pondok juga saya jarang sekali mengalami bullying. Paling hukuman-hukuman biasa lah ya, itu juga terjadi karena kesalahan kita sendiri. 

Itu saya sih, singkat cerita tentang masa kecil saya. Sebenarnya sampai sekarang saya segede ini, bapak masih suka ngajak saya pergi, loh. Hehe.. kalau dulu selama di jalan ngobrolnya seadanya, kalau sekarang yaa lebih kompleks lagi. Hehehe..

Kalau Mba Anjar Sundari  dan mba Nia Nurdiansyah  punya kenangan masa kecil apa? Atau teman-teman lainnya punya cerita tentang masa kecil yang paling berkesan, boleh yuuk cerita di kolom komentar. Mungkin pernah mengalami bullying juga?  

Comments

Popular posts from this blog

Granuloma Umbilikalis Pada Bayi

Assalamu’alaikum, sahabatku.. semoga selalu sehat, ya. Amin. . .

Postingan kali ini saya mau bercerita tentang Granuloma Umbilikalis Pada Bayi. Ini tentang Nooha, anak kedua saya yang lahir pada tanggal 5 Januari 2017 yang lalu. Sampai hari ini usianya sudah 3 bulan 4 hari. Alhamdulillah dia tumbuh dengan baik, sehat, dan ceria. Harapannya tentu seperti itu, bukan?
Tetapi, ada sesuatu yang pernah membuat saya khawatir, yaitu masalah tali pusarnya. Dia puput usia 7 hari, tapi saya melihat pada pusarnya itu masih ada yang basah, jadi proses lepasnya puput itu seperti belum waktunya gitu. Dan benar saja setiap hari ada bekas seperti nanah pada kaos dalamnya. Kalo saya ibaratkan itu seperti lelehan lilin yang menempel di kaos. Baunya khas tapi tidak seperti bau nanah, enggak pesing, ataupun bau enggak enak lainnya.
Setiap hari ada bekasnya di kaos, sesekali membesar berwarna merah, seperti daging tumbuh. Nanti meleleh lagi, terus seperti itu setiap hari. Saya takut karena pernah kejadian tet…

Kartu ATM Bisa Kadaluarsa

Mungkin pembaca bingung dengan judul postinganku ini, Masa iya sih Kartu ATM bisa kadaluarsa atau expired? Jawabannya adalah IYA. Ini kisah nyata lhoo ya, bukan fiktif. Hihihi.. sebelum mulai bercerita, mau tanya dulu, kalian semua punya kartu ATM kan? Hehehe.. Iya deh iya.. percaya kalian semua punya, bahkan seperti halnya gadget, kalian juga pasti punya lebih dari satu ATM kan? Hihihi.. 
Oke, mulai ceritanya ya, sebenarnya ini cerita sudah beberapa tahun yang lalu, jadi waktu itu aku belanja di Mini Market deket kontrakan, karena bawa uang cuma Rp50.000 dan khawatir kurang, aku meminta Aby untuk mengambil uang di ATM dulu, kebetulan ada mesin ATM di dalam mini market tersebut. Nggak lama Aby berdiri di depan mesin ATM itu. Aku kira sudah ambil uangnya, ternyata belum dan Aby bilang kalau Kartu ATMku sudah kadaluarsa. Aku kaget donk ya, kok bisa kedaluarsa? Serius? Dengan deg-degan dan penasaran, aku minta kartu ATMku dan menuju ke mesin ATM. Hmmmm...  ternyata benar, waktu aku pencet…

Jenis Sabun untuk 7 Langkah Cuci Tangan

Di beberapa tempat dengan gerakan cuci tangan sebagai praktik umum yang biasa dilakukan sehari-hari, banyak terdapat air bersih serta sabun, sebagian besar masyarakat justru tidak menyadari hal penting 7 langkah cuci tangan dengan sabun. Sementara pada lingkungan kumuh atau padat, maka kebiasaan mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun sebenarnya dapat membantu untuk menurunkan separuh dari jumlah penderita diare.