Rumah Dijual di Jakarta dengan Harga Miring

Jakarta sebagai salah satu kota yang memang sangat terkenal di Indonesia dengan berbagai macam hal yang dimilikinya, hal ini dikarenakan Jakarta sebagai pusat Negara yang ada di Indonesia, menjadikan Jakarta tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para pekerja, kemudian juga dengan pejabat serta berbagai macam kepentingan orang yang ada di sana.

Maka dari itu jika kita akan bicara mengenai populasi manusia pastinya kita juga membicarakan mengenai masalah tempat tinggal. Kita tahu bahwa tempat tinggal merupakan sebagai salah satu kebutuhan pokok dari setiap manusia yang ada di dunia ini, sehingga keberadaan rumah ini merupakan hal yang sangatlah penting sekali, terlebih untuk mereka yang sebagai pendatang di Jakarta.

Penjualan Rumah Setelah Lebaran Diprediksi Meningkat


Banyak pengembang yang sudah merasakan kenaikan penjualan setelah lebaran. Disebutkan, bahwa memang siklusnya masyarakat membeli rumah setelah lebaran. Konsumen pun saat ini seakan masih menunggu akan kebijakan-kebijakan di bidang properti seperti pelonggaran Loan To Value (LTV) hingga Tax Amnesty sebelum membeli properti. 

Di kelas apartemen sendiri penjualan telah meningkat hingga sebesar 60 persen. Masyarakat dinilai menahan diri untuk membeli properti sebelum bulan Ramadan. Mereka lebih memilih untuk menunggu tawaran-tawaran menarik dari pengembang. Tren ini diyakini dapat terus berlanjut hingga akhir tahun.

Pasca-lebaran, kepadatan kota Jakarta biasanya bertambah dan akan meningkat. Di tahun 2014, kepadatan penduduk meningkat hingga 30 persen karena arus balik pemudik yang membawa keluarga, saudara, atau rekannya ke Jakarta. Diyakini, kesempatan untuk mencari uang lebih besar di Jakarta sana.

Program Sejuta Rumah di Papua Telah Tembus 1.200 Unit



Program Sejuta Rumah yang menjadi andalan dalam program pembangunan rumah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga menyasar wilayah timur dari Indonesia. Kini, pembangunan rumah minimalis (sponsored post)  di Papua ditargetkan akan mencapai 6.500 unit rumah. Baik itu unit rumah murah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) ataupun rumah di luar subsidi.
Sebanyak 5.500 unit rumah dibangun dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan atau (FLPP) untuk MBR. Sementara 1.000 unit sisanya merupakan rumah yang tidak mendapatkan subsidi pemerintah atau rumah reguler.

Menurut data Real Estat Indonesia (REI), hingga kini, jumlah rumah yang sudah terbangun ada sebanyak 1.200 unit. Realisasi rumah terbangun tersebut berarti rumah sudah berpenghuni, sudah memiliki akta jual-beli tanah (AJB), serta sertifikat dan surat-surat lainnya.

Lima Kendala Ngeblog Paling Besar

Assalamu'alaikum, sahabat blogger!

Alhamdulillah bisa nyapa kembali di sini, setelah sekian hari vacum karena banyak kendala. Mulai dari leptop rusak sampe ke masalah intern yaitu turunnya semangat membuat saya berhenti sejenak, namun saya tak menamai ini sebagai hiatus, yaa, sahabat.