Pak Joko Widodo (JOKOWI)

Bismillah, 

Assalamu’alaikum sahabat blogger, kaifa haaluk? Semoga selalu sehat wal afiyat ya. Aamiin. Masih ingat nggak beberapa waktu yang lalu saya posting tentang buku favorit di blog ini? Iya, buku Dahlan Iskan tentang Ganti Hatinya itu lah yang saya suka. Saya memang lebih suka membaca buku non-fiksi dibanding karya-karya fiksi. Dulu sih waktu jaman SMA, saya seringnya baca novel remaja gitu, bahkan beberapa kali pinjam novel ‘dewasa’ juga. Hahaha. Tapi sekarang hampir nggak pernah baca buku fiksi. Bacanya lebih ke buku non-fiksi. Mungkin karena awalnya terlalu sering baca referensi untuk nulis artikel kali ya, hahaha. Dan sekarang lebih sering baca berita online juga, baca postingan blog dengan blogwalking di blog teman-teman di mana mereka lebih sering nulis cerita reality di kehidupan sehari-harinya. padahal baca dari HP suka bikin mata pedih karena layarnya kecil dan seringnya terpapar sinar lampu layar HP.

Tapi di postingan kali ini saya bukan lagi mau membahas soal buku favorit, ya. Melainkan penulis favorit. Karena tema arisan blog di grup GandjelRel adalah “Siapa Penulis Favorit Kamu?” tema dari mbak Irfa Hudaya Ekawati si empunya blog http://www.irfahudaya.net/ dan mbak Dani Ristyawati admin dari blog http://www.daniaku.com/
Di atas sudah saya singgung sedikit tentang bacaan yang sering saya baca, yaitu tulisan-tulisan non-fiksi. Jadi selain blogger kondang, penulis buku best seller, dan penulis jurnal artikel yang sudah bertaraf internasional. Saat ini saya menyukai tulisan-tulisan yang ditulis oleh Bapak Presiden Jokowi. Iya, serius, saya nggak typo. Memang saat ini saya lagi suka tulisan Pak Joko Widodo. Saya selalu menunggu-nunggu status postingan di fanpagenya, twit di akun twitternya. Penulis favorit bukan selalu penulis buku saja, kan, yaa? Hehe.. kenapa saya menyukai setiap status yang ditulis pak Jokowi? Karena di sana ada semangat, persuasinya jelas, dan saya menjadi salah satu warga yang selalu kepo akun-akun sosmed beliau. Apalagi di fanpage facebook pak Jokowi. Hampir tiap hari beliau menuliskan tentang perkembangan proyek-proyek yang ada di Indonesia. Ngeshare vlog beliau juga. Yaaahh, namanya ngefans, nggak salah dong ah kalau tiap hari stalkerin akun presiden. 
 
ambil dari fanpage pak Jokowi, postingan teratas

Saya  belum beruntung seperti blogger Gandjel Rel yang lain. Seperti mbak Ika Puspita, misalnya. Mbak Ika pernah berjabat tangan bahkan foto bersebelahan dengan pak presiden. Waktu ada acara di salah satu hotel di Semarang, sayangnya saya di Pekalongan dan waktu itu hamil Nooha. Jadi saya nggak bisa ikut kopdar dan berbincang-bincang dengan pak presiden. Sebenarnya saya akan sangat senang bila suatu saat bisa bertemu langsung dengan pak Presiden. Kayaknya saya juga bakalan curhat sama pak presiden seperti curhatnya TKI kemaren yang di Singapura tanggal 6 September. Hihihi.

Entah kapan dan dalam kesempatan apa nanti saya bisa bertemu dengan pak Presiden. Atau mungkin ketemu sama mas Kaesangnya dulu. Hihihi

Sebenernya saya ngefans dengan pak Jokowi itu sejak sebelum beliau menjabat jadi gubernur DKI loh. Tepatnya sejak beliau masih di Solo. Dan waktu itu bapak saya kuliah di Sebelas Maret. Saya dolan ke Solo dan takjub dengan penataan kota Solo yang sejuk dan tertata. Seperti halnya datang ke Purbalingga, datang ke Solo itu ngerasa nyaman saja di hati. #tsaaahh

Yaa,, saya sangat senang punya bapak presiden yang punya selera humor tinggi. Ngebayangin kalau bapak presiden nulis buku non-fiksi terus diselipkan humor ala-ala pak Jokowi. Mungkin nanti konsepnya mirip-mirip postingan-postingan pakdhe Abdul Cholik kali, ya? Hehehe.

Pak Joko Widodo, i love you. Terus beritahu kami tentang berita terkini, ya. hehehe

Rengginang Bu'e




Bisnis Rumahan Impianku


Bismillah,
Assalamu’alaikum teman-teman. Apa kabar? Akhir bulan lalu sampai September ini sedang banyak yang sakit, ya. Anak-anak dan suami saya juga demikian. Saya harus semangat walaupun saat ini alarm tubuh udah memberikan isyarat kepada saya untuk bedrest. Batuk, pilek, dan demam. Rasanya lemas dan tulang terasa linu. Biasanya kalau udah kaya gini typhus saya kambuh. Hiks. Doakan segera sehat kembali, ya. Aamiin.

Tetep harus semangat biar penyakitnya nggak betah di tubuh kita. Hempaaasss.. huussss.... sanaaaahh... hahhaa.. berasa jadi Syahrini yang lagi usir cantik itu para jamaah penyakit. Hihihi

Dear, teman-teman. Pernah ngerasa kangen sama mertua nggak? Punya ibu mertua baik itu seneng banget, ya. Sampai-sampai saya kangen banget gini. Ibu mertua dan bapak mertua saya tahun ini melaksanakan ibadah haji. ini tinggal nunggu waktu pulang, insya Allah pulang tanggal 17 September. Jadi sekitar 1 minggu lagi. doakan yaa teman-teman supaya Ibu mertua saya sehat selalu sampai nanti tiba di rumah Blora. Aamiin.

Ibu mertua saya selama ini yang ngajarin saya untuk kreatif perihal makanan. Salah satu contohnya ketika mau ada hajatan atau lebaran. Pokoknya kalau mau ada acara besar, keluarga Blora lebih suka bikin jajanan sendiri jauh-jauh hari untuk hari H. Banyak sekali jajanan yang bisa dibuat oleh Ibu mertua saya dibantu mbak ipar saya. Kalau saya di sana, otomatis saya juga bantu-bantu sekalia belajar cara membuatnya. Jajanan yang sampai sekarang saya tekuni belajarnya adalah membuat rengginang gurih. 

Rengginangnya beda dengan rengginang yang dibuat simbah saya di Kesesi. Kalau simbah saya (almarhum) membuat rengginang pasti dikasih bumbu rempah seperti ketumbar, kemiri, bawang putih, dan garam. Berbeda dengan Ibu mertua saya yang menurut saya simple tapi hasilnya endeus banget. Guriihh segurih-gurihnya. Karena rengginang yang dibuat Bu’e (begitu saya memanggilnya) hanya dengan santan dan garam untuk rasa original (asin). Dan diberi gula (bisa gula pasir atau gula jawa) untuk rasa manisnya.

Waktu lebaran Idul Fitri lalu, saya membuat rengginang rugih rasa trasi. Diajarin Bue caranya bikin dari mulai merendam beras ketan, mengukus, kemudian dikoleh atau diaduk-aduk sambil diguyuri santan dan air trasi. Setelah matang sempurna renggiang dicetak manual menggunakan tangan dan perasaan. Yups, menggunakan perasaan saja untuk mengira-ngira ukuran bulan rengginangnya sama.

Insya Allah sih ya, saya sudah bisa kalau disuruh membuat sendiri. tapi harus dibantu suami juga ding soalnya kalau mbuatnya banyak saya nggak kuat ngaduk beras ketan yang sudah setengah matang, beraaaaatttt uey. 
Bue Lagi bikin rengginang

Rencana, doakan semoga beneran terlaksana, rengginang resep Bue ini pengen banget saya kembangin menjadi bisnis rumahan saya. Hal pertama yang bikin saya yakin sih, ketika teman-teman dan saudara di Kesesi makan rengginang Bue ini semuanya pada suka dan minta resepnya. Hahaha. Jadi banyak lidah yang cocok dengan rasa gurih rengginang Bue.
Sayangnya sih harga beras ketan di Kesesi lebih mahal dari harga beras ketan di desa suami. 

Tapi kan agak kurang hemat kalau bawa beras ketan dari Blora, haha. Lha wong perjalanannya saja kurang lebih 7 jam. Belum bensinnya. Wkwkwk. Pokoknya ini lagi mikir gimana biar bisa dapat beras ketan dengan harga murah dulu. Rengginang di Blora satu kilo (belum digoreng) harganya kemaren masih dibawah 30rb rupiah. Itu jadi patokan saya. Mungkin nanti kalau jadi ngembangin bisnis rumahan, saya mau bikin merk “Rengginang Bu’e”.

Mau mendalami dulu, terus belajar sama yang sudah terjun ke dunia bisnis seperti tanya-tanya dengan Wahyu Widya ( http://www.awanhero.com ) dan BunSal ( http://www.muslifaaseani.com ). Mbak Wahyu dan Bunsal bersedia kan ngajarin saya tentang apa saja yang harus saya lakukan untuk mengembangkan bisnis rumahan impian saya ini?

English Vinglish



English Vinglish

Bismillahirohmaanirrohiim..

Assalamu’alaikum, sahabat Blogger yang saya kangenin. Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha 1438 H ya, semoga amal ibadah kita dapat menjadi bekal kelak di yaumul hisab nanti. By the way, qurban nggak tahun ini? Kalau saya enggak qurban tahun ini, rezeki yang saya punya untuk slametan kakak dan adik sekaligus. Yang qurban hanya bapak dan ibu, masing-masing satu kambing. Alhamdulillah semoga berkah. Aamiin.  

Alhamdulillah yang ke dua adalah insya Allah saya sudah mulai bisa ngeblog lagi menggunakan leptop kesayangan. Pasalnya, selama hampir 3 minggu lalu leptop saya ‘opname’ di tukang servis langganan saya di Semarang. Kali ini, kasusnya sama-sama parah seperti beberapa waktu lalu, engsel untuk monitor leptop saya rusak, jadi kalau dibuka semuanya retak. Ahhh pokoknya kalau punya anak yang aktif itu mah akan menjadi hal biasa bila elektronik tiba-tiba bermasalah, tapi kalau udah waktunya rusak ya rusak sih. Hahaha. 

Selama leptop diservis, saya jadi jarang nonton film. Palingan sesekali nonton pakai HP. Tapi tahu sendiri nonton film di HP itu kurang puas karena layarnya enggak lebar seperti layar leptop. Nontonnya jarak sejengkal, telinga disumpel headset biar suaranya kedengeran jelas. Haha. Pokoknya mah nonton film jadi enggak nikmat gitu deh.

Betewe, film apa sih yang paling aku suka?

Film dari jaman dahulu sampai sekarang sih tetep ya film Rhoma Irama, dari sekian banyak film Rhoma Irama, Gitar Tua lah yang paling menyentuh. Selera loh ini selera. Hahaha

Tapi di postingan kali ini saya nggak mau bahas film Gitar Tua, hihi. Karena saya lagi suka sama film India. Bukaaann.. bukan Maann atau Kuch Kuch Hota Hai, tapi film India tahun 2012, judulnya English Vinglish.



Kebetulan banget nih mbak Untari ( www.duniaqtoy.com ) dan mbak Ira Sulistiana ( www.irasulistiana.com ) pengen tahu film favorit sepanjang masa. Di atas sudah disebutkan film favorit saya adalah film-filmnya Bang Haji. hehe. Tapi di postingan ini saya mau cerita kenapa saat ini saya suka English Vinglish.

Jadi begini, sudah 4 semester ini saya menggunakan film Engslih Vinglish untuk bahan ajar saya di kelas. Kenapa saya memilih English Vinglish untuk bahan ajar Bahasa Inggris Dasar di kelas mahasiswa semester satu? Karena saya suka konsepnya. Film yang dibintangi oleh Sri Devi ini adalah film drama-comedy tentang seorang Ibu yang ingin belajar bahasa Inggris. Anaknya, Sapna lancar berbahasa Inggris, tapi dia punya sifat yang kurang baik, sampai-sampai dia malu punya Ibu yang gak bisa berbahasa Inggris. Tapi pada suatu hari, Shashi (Ibu Sapna) diundang untuk menghadiri pernikahan ponakannya di New York. 2 minggu sebelum acara pernikahan Shashi sudah bertandang ke New York, untuk membantu mempersiapkan pernikahan ponakannya itu. Ladoo, makanan khas India usaha rumahan Shashi menjadi makanan yang sangat dinantikan semua tamu. Karena Ladoo yang Shashi buat rasanya sangat enak. Btw, ngomongin Ladoo saya sempet pengen bikin sendiri loh, tapi saya di Pekalongan bahan-bahan membuat ladoo enggak tahu di mana belinya. Haha. Kayaknya enak gitu, yak!



Singkat cerita Shashi diam-diam ikut kursus bahasa Inggris di salah satu lembaga bimbel. Giat sekali belajarnya, sampai di akhir cerita, Shashi memberi sambutan full English di depan para tamu undangan. Dan seketika itu Sapna tersadar akan sifatnya yang buruk selama ini kepada Ibunya. Gemuruh tepuk tangan bangga menjadi penutup film tersebut. Saya suka karena saya bisa memposisikan mahasiswa saya sebagai orang yang sedang belajar bahasa Inggris seperti Shashi, dan bahasa Inggris itu bukan sesuatu yang sulit untuk dipelajari. Moral valuenya kita kudu semangat saat belajar dan harus bersungguh-sungguh, buktikan kepada semua orang yang mencibir dan menghina kita kalau kita itu bisa! 

Kalau kamu belum pernah nonton English Vinglish, kamu bisa cari di youtube, ya! hahaha

BUKU ISNPIRATIF: GANTI HATI (Tantangan Menjadi Menteri)



BUKU ISNPIRATIF: GANTI HATI (Tantangan Menjadi Menteri) by Dahlan Iskan




Asslamu'alaikum, Apa kabar teman-teman Blogger yang saya cintai? Smoga selalu diberi kesehatan yes. Hmm.. Buku apa yang sedang teman-teman baca? Kasih tahu dong!
Postingan kali ini saya mau jawab tantangan tema arisan blog yang ke tujuh. Tantangan oleh mbak Vita Puspitasari dan mbak Anita Makarame tentang Buku Favorit apa yang menginspirasi kehidupan sehari-hari. 

Sebagai seseorang yang suka membaca buku (meskipun tidak gemar), saya juga mempunyai pengalaman dalam membaca sebuah buku. Bahkan di antara sekian banyak buku yang telah saya baca, ada beberapa buku yang mampu mengisnpirasi saya. Salah satu buku tersebut berjudul “Ganti Hati (Tantangan Menjadi Menteri) karya Dahlan Iskan. Buku tersebut merupakan buku yang di dalamnya diuraikan berbagai pengalaman penulis dalam berjuang mempertahankan hidup atau dalam bahasa saya menyambung hidup.

ganti hati dahlan iskan


Membaca tulisan Dahlan Iskan, bait demi bait seakan membuat saya masuk ke dalam sebuah peristiwa perjuangan seseorang dalam mempertahankan hidup, di tengah ancaman kematian yang sewaktu-waktu datang. Kisah perjalanan mantan Menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kabinet Indonesia Bersatu II tersebut memang menggetarkan jiwa. Saya sampai dibuat meneteskan air mata ketika membaca bagaimana seorang mantan wartawan sekaligus CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group memaparkan dengan gamblang bagaimana ia melawan penyakit yang memiliki resiko kematian. Dan salah satu cara untuk memperpanjang hidupnya adalah dengan cara ganti hati (transplantasi hati).

ganti hati dahlan iskan

Bagi siapa saja hal tersebut akan dianggap sebagai sesuatu yang kecil kemungkinan untuk berhasil, bukan hanya soal susahnya mencari donor hati yang sesuai, tetapi juga soal keberhasilan proses operasi transplantasi sendiri yang dipertanyakan. Namun tampaknya nada pesimistis tersebut tidak berlaku bagi mantan Direktur PLN tersebut. Beliau memiliki kenyakinan bahwa segala sesuatu butuh usaha, seberapapun berat dan resiko apapun  itu semua harus dijalani.



Mungkin karena berbekal pengalaman menjadi seorang wartawan lapangan selama puluhan tahun, kegigihan, keuletan serta semangat dalam menjalani hidup itulah yang membuat Dahlan Iskan tidak gentar dalam melawan penyakit tersebut. Buktinya apa yang menjadi kekawatiran sebagian besar orang-orang, bahkan keluarga dekatnya hingga saat ini belum sepenuhnya terbukti. Operasi ganti hati pak Dahlan Iskan yang dilakukan di China berhasil, bukan hanya itu saja hati baru yang dimiliki Pak Dahlan yang konon berasal dari pemuda Negeri Tirai Bambu tersebut bekerja dengan baik.

Bila tidak berkerja dan bisa menyatu dengan raga Dahlan Iskan tidak mungkin beliau masih bertahan hingga sekarang. Lebih hebatnya lagi setelah memiliki hati baru Dahlan Iskan justru tidak banyak melakukan istirahat sebagaimana yang disarankan oleh tim dokter, beliau justru mensyukuri kesempatan untuk hidup lebih lama dengan cara mengabdi untuk negeri yaitu menjadi orang nomor satu di PLN, dan juga  menjadi menteri BUMN di saat negeri ini masih dipimpin oleh SBY. Saat masih aktif di PLN dan juga saat menjabat sebagai menteri, kinerja pria kelahiran Jawa Timur itu justru semakin giat. Alih-alih memikirkan resiko kesehatannya semakin memburuk, beliau malah berkenyakinan bahwa semakin giat bekerja untuk bangsa akan membuat dia semakin sehat, dan hal tersebut benar-benar dibuktikannya hingga saat ini.

Jika dibaca lebih mendalam, buku “Ganti Hati” karya Dahlan Iskan sesungguhnya mengajarkan kepada kita semua sebagai manusia tentang pentingnya semangat dalam menjalani hidup. Hidup itu ada kalanya manis ada kalanya pahit, Dahlan Iskan telah mengalami semuanya. Bahkan beliau mengajarkan di titik paling kritis sekalipun jika ada kesempatan berbuat lebih baik, maka kita diharuskan untuk tetap semangat dalam berjuang demi hidup yang labih baik, demi menciptakan kebahagiaan bagi diri sendiri, keluarga, maupun orang-orang di sekitar kita. 

Melalui buku ini pula segenap pembaca dan masyarakat Indonesia umumnya mencoba diajak untuk  memaknai hidup dan perjalannya sebagai sebuah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Buku ini memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa membayangkan sekaligus merasakan perjuangan dalam masa-masa sulit di dalam kehidupan. Begitu juga kita akan sadar bahwa di saat-saat itulah kita sebagai manusia pasti akan merasakan betapa lemahnya kita dan membutuhkan orang lain untuk menolong dan mendampingi kita dalam menjalani masa-masa sulit tersebut. 

ganti hati dahlan iskan



Terakhir, buku yang menceritakan kisah nyata perjuangan Dahlan Iskan dalam menggapai hidup baru (dengan hati baru) bagi saya merupakan sebuah buku yang sangat inspiratif dan layak dijadikan sebagai pedoman dalam mengarungi kehidupan ini dengan berbagai warna-warni ujiannya. Melalui buku ini pula kita akan dapat lebih mensyukuri atas nikmat kehidupan yang diberikan Tuhan kepada kita semua. Amien.