Skip to main content

Kenangan Saat SD Dulu

Hidup di desa memang membahagiakan, begitu pula masa kecil saya yang terbilang bahagia. Tapi kebahagiaan yang saya rasakan pernah sempat hilang saat ada satu masalah besar dalam keluarga saya. Aahh.. meskipun banyak kenangan masa kecil yang tak terlupakan, tapi saya nggak mau cerita yang sedih-sedih. Hihihi. Saya mau cerita tentang kenangan manis nan membahagiakan di masa kecil saya yang sampai sekarang tidak pernah saya lupakan.

Masa kecil saya bersekolah di SDN 01 Kesesi. Waktu kelas 4 SD, saya pernah disuruh Bu Guru Agama untuk mewakili sekolah mengikuti lomba MTQ. Lomba MTQ antar sekolah dasar di desa saya selalu memang diadakan setiap tahunnya, bahkan sampai sekarang masih tetap diadakan secara rutin. Awalnya saya nggak mau karena malu. Iya! Saya memang dulu orangnya pemalu, meskipun sekarang malah jadi malu-maluin. OKE fine! Hahaha



Tetapi bu Guru membujuk dengan rayuan maut sampai akhirnya saya mau. Lombanya bertahap, pertama tingkat kecamatan dulu. Bila jadi juara, lanjut ke kabupaten, dan seterusnya.

Saya minta diajarin bapak dan ibu yang kebetulan juga merupakan pelatih qori. Waktu itu ketentuan lombanya adalah surat yang akan dibacakan bebas. Karena bebas, pastilah saya memilih surat yang paling mudah, yaitu surat Al faatihah. Hehehe.. setiap hari selama seminggu saya dilatih bapak saya sendiri. Tapi, meskipun bapak saya mahir Qiro’ ternyata saya tidak mudah menghafal tausyeh dan cengkok setiap nada dalam tilawah, seperti bayati, rosh, jiharkah, dan lain sebagainya.

Bu guru selalu memantau saat saya latihan sambil terus memberi semangat kepada saya. Sampai akhirnya tibalah hari H di mana saya harus berkompetisi dengan peserta lain. MTQ yang diadakan waktu itu meliputi MTQ tingkat SD, SMP dan SMA. Saya menjadi perwakilan peserta Qiro putri dan teman saya perwakilan putra dari SDN 01 Kesesi. Berangkat ke tempat acara  naik mobil diantar bu guru ke masjid samping kecamatan Kesesi.

Gemeteran dan deg-deg-an saat maju ke depan untuk registrasi, ngambil nomor urut peserta serta mengambil lintingan kertas yang sudah dikocok. Kertas tersebut isinya surat yang harus dibaca peserta MTQ. Saat membuka kertas lintingan yang saya ambil, ternyata mendapatkan surat Ali Imron ayat 30-33. Saya kaget dan ingin nangis. Bagaimana tidak, lhaa wong saya latihannya nggak pernah surat lain selain Al faatihah. Secara otomatis saya nggak bisa kalau disuruh baca surat lain untuk tilawah. Dalam hati saya, nanti mau dibaca tartil saja.

Tapi keberuntungan masih berpihak dengan saya dan teman-teman tingkat SD. Pasalnya, Juri-juri mengumumkan sebelum lomba dimulai, bahwa lintingan kertas yang berisikan surat-surat yang harus dibaca peserta berlaku untuk anak SMP dan SMA. Sedangkan peserta tingkat SD bebas. Jangan tanya bagaimana perasaan saya saat itu. Bahagia! Yang tadinya udah mau nangis karena ngerasa nggak siap membaca surat selain Alfaatihah, berubah menjadi tawa riang. Sambil memegang tangan bu guru, saya terus disemangati bu guru.

“Peserta selanjutnya adalah peserta Putri dari SDN 01 Kesesi”

Suara dari arah depan terdengar jelas. Saatnya saya maju untuk melantunkan ayat suci Alquran, Alfaatihah. Saya maju ke depan, memberi hormat, kemudian duduk. Lampu kuning menyala tanda saya harus siap-siap dan memberi salam. Kemudian lampu hijau menyala saya memulai dengan ta’awudh dan seterusnya. Durasinya lima menit untuk setiap peserta. Saat membaca …..waladhoolliiin.. lampu kuning pas menyala tanda waktu akan habis. Dan merah tandanya peserta harus segera mengakhiri. Pas! Bathin saya.

Alhamdulillah selesai, saya berdiri memberi hormat dan meninggalkan tempat. Hihihi..

Ahh legaa… tinggal nunggu pengumuman pemenang. Bu guru tersenyum melihat saya sambil beberapa kali mengucap terima kasih dan memuji saya, Mbak Noorma Hebat! Dengan pujian yang berulang-ulang.

Setelah semua peserta maju untuk menunaikan tugasnya masing-masing. Saatnya dewan juri berdeleberasi dan berdiskusi untuk menentukan pemenangnya. Tepat jam 1 siang semua peserta berkumpul kembali untuk mendengarkan pengumuman pemenang lomba MTQ jenjang SD dari dewan juri.

Deg-degan itu pasti. Namun di sisi lain saya juga nggak pengen mengecewakan ibu guru, SDN 1 Kesesi dan kedua orang tua saya. Rasa membuncah tak terelakkan mana kala nama saya disebutkan oleh dewan juri sebagai juara pertama lomba MTQ peserta putri tingkat SD dan bisa melanjutkan ke tingkat kabupaten. ALHAMDULILLAH saya bisa menjadi juara, walau masih tingkat kecamatan tapi itu merupakan prestasi dan kenangan yang tak bisa saya lupakan sampai saat ini.

Setelah selesai lomba, saya kembali ke SDN 1 Kesesi, saat itu bu guru memberi saya amplop, sampai di rumah saya baru membukanya, ternyata isinya uang 20.000 rupiah. Alhamdulillah, meskipun jumlahnya hanya segitu namun saat tahun 1997 uang 20 rb bagi saya sangatlah banyak jumlahnya. Uang tersebut saya tabung untuk membeli sepatu saat kenaikan kelas V SD. Hehe..

Lalu? Ketika lomba di tingkat Kabupaten Pekalongan menang lagi nggak? Jawabannya ENGGAK! Saya tidak juara 1 lagi, tetapi Cuma mendapatkan juara harapan 3. Hahaha.. Alhamdulillah lah ya. Walaupun begitu, itu adalah pengalaman dan kenangan yang hingga saat ini masih dan akan terus saya ingat.

Kalau kamu, kenangan masa kecil apa yang tak terlupakan?? Share duonk.. *__*

Comments

Popular posts from this blog

Granuloma Umbilikalis Pada Bayi

Assalamu’alaikum, sahabatku.. semoga selalu sehat, ya. Amin. . . Postingan kali ini saya mau bercerita tentang Granuloma Umbilikalis Pada Bayi . Ini tentang Nooha, anak kedua saya yang lahir pada tanggal 5 Januari 2017 yang lalu. Sampai hari ini usianya sudah 3 bulan 4 hari. Alhamdulillah dia tumbuh dengan baik, sehat, dan ceria. Harapannya tentu seperti itu, bukan? Tetapi, ada sesuatu yang pernah membuat saya khawatir, yaitu masalah tali pusarnya. Dia puput usia 7 hari, tapi saya melihat pada pusarnya itu masih ada yang basah, jadi proses lepasnya puput itu seperti belum waktunya gitu. Dan benar saja setiap hari ada bekas seperti nanah pada kaos dalamnya. Kalo saya ibaratkan itu seperti lelehan lilin yang menempel di kaos. Baunya khas tapi tidak seperti bau nanah, enggak pesing, ataupun bau enggak enak lainnya. Setiap hari ada bekasnya di kaos, sesekali membesar berwarna merah, seperti daging tumbuh. Nanti meleleh lagi, terus seperti itu setiap hari. Saya takut k

USAHA MIKRO; TETAP BERTAHAN DI TENGAH PANDEMI BERSAMA PIP

Kurang lebih 6 bulan masyarakat Indonesia berperang melawan pandemi Covid-19, dan hingga saat ini perang tersebut belum ada indikasi berakhir. Pandemi Covid-19 di Indonesia yang diketahui sejak awal bulan Maret 2020 harus memaksa sebagian besar masyarakat Indonesia untuk membatasi aktivitasnya agar penularan dapat dicegah. Dampak dari pembatasan tersebut mengakibatkan berbagai sektor terkena imbas akibat terhentinya aktivitas masyarakat. Di antara sektor yang paling parah terkena dampak Covid 19 adalah sektor ekonomi. Bukan hanya dalam skala makro, pandemi Covid-19 ini pun menghantam sektor mikro, bahkan tak tanggung-tanggung para pedagang kecil dan pelaku UMKM juga terkena imbasnya. Bahkan tidak sedikit dari mereka harus gulung tikar dan tidak dapat melanjutkan usahanya karena mengalami banyak kerugian, mulai dari turunnya pendapatan, hingga tidak lakunya barang-barang hasil produksi mereka.  Jika kita mau menengok lebih dalam lagi, UMKM di Indonesia sangat banyak jumlahnya, usaha ini

Mencetak Kemasan Makanan di Uprint untuk Usaha Snack

Halo, Assalamu’alaikum.. Apa kabar, Februari udah berjalan satu pekan, nih, dan di beberapa mini market udah mulai banyak bertebaran promosi coklat dan segala macam yang berhubungan dengan valentine. Saya sendiri sih enggak pernah merayakan hari Valentine secara khusus, ya. karena menurut saya semua hari sama saja, saya selalu memberikan rasa sayang dan cinta kepada pasangan... pun dengan sesama, eaaa... Kamu pernah ngeh nggak kalau kemasan masakan untuk coklat, kue, permen menjelang Valentine itu lucu-lucu. Saya sih selalu ngeh, bahkan beberapa kali pernah kepincut dan membeli coklat karena suka dengan kemasannya. Kalau Valentine begini mah kebanyakan kemasan warna pink gitu, ya. Tapi ada juga beberapa coklat yang kemasannya selain warna pink. Ngomongin masalah kemasan. Saya jadi ingat teman saya yang buka usaha kuliner snack/jajanan. Tapi dia bingung soal design kemasannya. Namanya usaha kuliner begitu kan hal yang pertama dipikirkan tentu soal personal bran