Skip to main content

MieSo, Makanan Khas Krapyak Pekalongan



Sepulang rapat di kampus pekan lalu saya bertemu dengan teman saya di salah satu tempat yang mana sudah kita sepakati bersama pagi harinya. Mbak Minati Maulida, namanya. Kita chat via bbm, menentukan jam untuk janjian di depan Masjid Al Ikhlas depan Lapangan Jetayu Pekalongan. Karena saya selesai rapat setelah duhur, jadilah kami sepakat untuk bertemu jam 12.30 wib di depan Masjid.

Awalnya saya mau mampir dulu ke rumahnya, tetapi karena saya kepikiran Noofa belum ada yang jemput pulang sekolah, walaupun saya sudah sms kakungnya untuk menjemput, tapi karena nggak ada balasan, jadi tetep kepikiran. Akhirnya saya bilang ke teman saya itu untuk ngobrolnya di warung terdekat saja. Berhubung saya belum paham daerah sana dan belum tahu makanan khas daerah sana, jadilah teman saya mengajak saya ke satu warung yang katanya menjual makanan khas desa Krapyak Pekalongan, konon.. makanan khas atau jajanan khas ini hanya dijual di Krapyak Pekalongan. Kata dia namanya “Mie So”, saat dia bilang namanya “mie so” saya sih penasaran, malah mbathin kira-kira betul kah dengan apa yang saya bayangkan? Dia berusaha menjelaskan, tetapi rasa penasaran saya itu belum dapat berhenti bilamana saya belum melihatnya sendiri. Hihihi


Tanpa pikir panjang, “Ayoo.. cuuss..” kata dia sambil menyalakan mesin motor maticnya. Kami menuju warung dengan mengendarai motor sendiri-sendiri. Dia di depan sebagai penujuk arah, dan saya mengikutinya di belakang. Nggak sampai lima menit kami sampai di warung yang dimaksud. Sebuah warung sederhana di depan rumah sang empunya warung. Penjualnya ramah, namanya Bu Khikmah. Beliau menyambut kami dengan senyum sumringah. Karena bu Khikmah adalah tetangga mbak Minati, dan teman saya itu sudah menjadi pembeli langganan yang suka marung  di warung itu. Ketika memesan pun hanya dengan kalimat sederhana. “Mie So, seperti biasa, Bu”. Betul sekali, nggak perlu menunggu lama mie so yang kami pesan datang juga dan mendarat selamat di atas meja di depan kami.



“Ini yang cabenya banyak buat Mbak Minati, dan ini yang cabenya cukupan untuk Mbak’e (maksudnya untuk saya)”

“Oh.. iya, Bu.. terima kasih..” jawab saya

“Kolaknya mau yang mana? Santan apa bening? Dikasih es nggak?” tanya beliau

“saya es kolak santan, Bu.. Mbak Minati juga sama”

“Iya, tunggu, ya..”

Sambil menunggu es kolak pesanan kami datang, saya melihat hidangan unik yang ada di depan saya itu, mie so.. sambil melihat, saya juga bertanya kepada Mbak Minati.

“Mie So ini isinya apa saja sih, Mbak? Bumbunya apa?”

“Mie So, seperti namanya ada Mie kuning dan ada So (melinjo) tetapi So yang dimaksud cuma kulit melinjonya aja. Kalau isian lainnya ada tetelan sapi, tahu, kerupuk usek, dan kuah bumbu tauto. Sambalnya bisa sambal uleg atau pakai cabe utuh”.

 “Oohh.. bumbu tauto, ya? Kayak soto, duonk ya? Nggak ada botoknya?” malah banyak tanya banget, kapan makannya? Hahahaha

“Bisa sih, kalau misal nggak suka tauto yaa ntar pake kuah biasa, lebih bening. Iya, kaya soto Pekalongan kan soto tauto. Enggak ada botoknya, kan beda..” udah kaya guide banget yak. Hahaha



Es kolak pesanan kami datang. Daaann.. seperti biasa, penyakit narsis bergejolak, bukan saya yang difoto, tapi makanan yang ada di depan kami itu. Hahaha. Upload langsung ke instagram, dan.. kami berdua siap menikmati mie so dan es kolak santan yang sangat menggoda selera.

“sluuurrp” saya mencoba kuahnya mie so dulu ahh.. dan ternyata, kalau saya bilang hampir-hampir mirip pindang tetel khas Pekajangan Pekalongan, tapi kaya soto. Ahh.. rasanya itu enaak banget, apalagi saya nambahin sambel biar makin pedas. Saya lanjutkan makan, baru sampai beberapa sendook udah keringetan, hihihi.. jadilah saya melepas jaket saya biar nggak terlalu panas.

“Gimana, ciiint? Enak?” tanya teman saya penasaran

“enak, Mbak. Lagian makan begini nggak bikin kenyang ya” hahaha *kode banget biar bisa nambah*

“Mau nambah?” basa-basi juga kali nanyanya. Hehe

“Enggak, Mbak. Matur suwun” jawab saya malu-malu-in.

Sambil menikmati mie so dan es kolak, kami bercerita ngalor-ngidul tentang pekerjaan dan lain-lain. Nggak terasa sudah hampir jam setengah dua siang. saya harus segera pulang, udah kangen sama anak tersayang. 

“Mbak, makasih ya.. udah dikenalin makanan khas Krapyak ini.. insya Allah kapan-kapan bisa nyambung lagi dengan kuliner yang berbeda, ya. Saya harus pulang, nih. Udah jam segini” sambil ngelihat jam yang ada di HP.

Mbak Minati yang traktir saya, dibayarlah semua yang sudah kami pesan.

“Bu.. sudah.. berhitung, Bu..” 

“Iya, Nok... Mie So dua porsi (Rp15.000). es kolak dua porsi (Rp5000), nambahnya apa lagi, Nok ayu?”

“Gorengan satu dan kerupuk usek lima”

“gorengan satu (600) dan kerupuk usek lima (1000). Jadinya Rp21.600”

Selesai dibayar, Mbak Minati mengantar saya ke Simpang Lima Pekalongan, maksudnya biar nggak bingung, karena saya belum hapal daerah Krapyak. Hehe. Makasih ya, Mbak untuk ketemuannya, untuk ngobrolnya dan traktiran Mie So-nya. Kapan-kapan semoga bisa main ke rumah Mbak, atau Mbak yang main ke Kesesi. Sampai ketemu lagi di lain kesempatan dan tentunya dengan kuliner yang berbeda. *langsung inget ternyata yang dipoto Cuma makanannya, kita berdua nggak foto bareng* wakakakakaakak

NB :
Warung Mie So Bu Khikmah
Jalan Jlamprang Gang 9
(Depan Masjid Aulia)
Krapyak Pekalongan

Comments

Popular posts from this blog

Granuloma Umbilikalis Pada Bayi

Assalamu’alaikum, sahabatku.. semoga selalu sehat, ya. Amin. . .

Postingan kali ini saya mau bercerita tentang Granuloma Umbilikalis Pada Bayi. Ini tentang Nooha, anak kedua saya yang lahir pada tanggal 5 Januari 2017 yang lalu. Sampai hari ini usianya sudah 3 bulan 4 hari. Alhamdulillah dia tumbuh dengan baik, sehat, dan ceria. Harapannya tentu seperti itu, bukan?
Tetapi, ada sesuatu yang pernah membuat saya khawatir, yaitu masalah tali pusarnya. Dia puput usia 7 hari, tapi saya melihat pada pusarnya itu masih ada yang basah, jadi proses lepasnya puput itu seperti belum waktunya gitu. Dan benar saja setiap hari ada bekas seperti nanah pada kaos dalamnya. Kalo saya ibaratkan itu seperti lelehan lilin yang menempel di kaos. Baunya khas tapi tidak seperti bau nanah, enggak pesing, ataupun bau enggak enak lainnya.
Setiap hari ada bekasnya di kaos, sesekali membesar berwarna merah, seperti daging tumbuh. Nanti meleleh lagi, terus seperti itu setiap hari. Saya takut karena pernah kejadian tet…

Kartu ATM Bisa Kadaluarsa

Mungkin pembaca bingung dengan judul postinganku ini, Masa iya sih Kartu ATM bisa kadaluarsa atau expired? Jawabannya adalah IYA. Ini kisah nyata lhoo ya, bukan fiktif. Hihihi.. sebelum mulai bercerita, mau tanya dulu, kalian semua punya kartu ATM kan? Hehehe.. Iya deh iya.. percaya kalian semua punya, bahkan seperti halnya gadget, kalian juga pasti punya lebih dari satu ATM kan? Hihihi.. 
Oke, mulai ceritanya ya, sebenarnya ini cerita sudah beberapa tahun yang lalu, jadi waktu itu aku belanja di Mini Market deket kontrakan, karena bawa uang cuma Rp50.000 dan khawatir kurang, aku meminta Aby untuk mengambil uang di ATM dulu, kebetulan ada mesin ATM di dalam mini market tersebut. Nggak lama Aby berdiri di depan mesin ATM itu. Aku kira sudah ambil uangnya, ternyata belum dan Aby bilang kalau Kartu ATMku sudah kadaluarsa. Aku kaget donk ya, kok bisa kedaluarsa? Serius? Dengan deg-degan dan penasaran, aku minta kartu ATMku dan menuju ke mesin ATM. Hmmmm...  ternyata benar, waktu aku pencet…

Jenis Sabun untuk 7 Langkah Cuci Tangan

Di beberapa tempat dengan gerakan cuci tangan sebagai praktik umum yang biasa dilakukan sehari-hari, banyak terdapat air bersih serta sabun, sebagian besar masyarakat justru tidak menyadari hal penting 7 langkah cuci tangan dengan sabun. Sementara pada lingkungan kumuh atau padat, maka kebiasaan mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun sebenarnya dapat membantu untuk menurunkan separuh dari jumlah penderita diare.