Skip to main content

Malam Pertama di Pondok Pesantren


masjid Pondok Daaru Ulil Albaab
Assalamu’alaikum sahabat sholih-sholihah. Apa kabar? Semoga selalu sehat wal afiyat ya.. amiin yaa Robbal alamin.

Tiba-tiba saya kangen banget sama pondok, nih. Gara-gara kemaren lihat di facebook foto masjid Pondok yang diunggah temen facebook. Dia adalah adik tingkat saya sewaktu di pesantren. Melihat foto masjid Daaru Ulil Albaab tiba-tiba saya seperti berada pada masa lalu, masa-masa sekolah sambil nyantri. Dulu, saya nyantri usia SMP, jadi lulus SD saya memutuskan untuk meneruskan sekolah sambil mondok di Pondok Modern Daaru Ulil Albaab Tegal.

Sebenarnya, menjadi santri tidaklah mudah untuk saya. Ibu saya seperti belum tega berpisah dengan saya karena saya anak pertama yang manja. Saya dulu belum bisa nyuci baju sendiri karena sewaktu sekolah SD di rumah saya nggak pernah nyuci baju sendiri, paling banter nyuci sepatu dan tas. Nyetrika pun nggak pernah. Kebayang kan dulu saya kaya gimana, belum bisa mandiri gitu lah intinya. XD

Pertama kali di pondok saya nangis. Hehehe. Padahal ya, hidup di pondok itu enak loh. Tugas kita cuma belajar dan belajar. Nggak mikir masak karena kita di sana ada jatah 3x makan dalam sehari semalam. Nah untuk urusan nyuci baju yang sama sekali belum bisa, akhirnya saya diajarin Ibu saya. Kalau nyetrika, di pondok nggak boleh nyetrika baju. Dulu sih pernah ada yang bawa setrika arang, kalau mau nyetrika ngantri dan baju yang disetrika malah jadi sedikit kotor karena kena debu arang yang terbang saat ditiup. Hihihi

Di postingan kali ini saya mau cerita tentang Pertama kali saya di Pondok. Tepatnya malam pertama saya tidur di Pesantren. Jadi dulu itu, saya datang ke pondok lebih awal. Misal nih ya, tahun ajaran barunya dimulai tanggal 5, tapi saya sudah datang sejak tanggal 2. Jadi santri baru yang datang pertama kali itu saya. Hihii. Nggak tahu kenapa bapak dan Ibu menyuruh saya datang lebih awal, hmm.. kayaknya sih mungkin supaya saya lebih bisa prepare segala sesuatunya. Padahal kalau temen-temen santri baru pada datang di akhir-akhir, orangtuanya masih pengen berlama-lama sama anak-anaknya sebelum nantinya pisah lama karena anaknya mondok. Hiks

Malam pertama saya tidur di pesantren ditemenin Ibu. Karena walaupun saya datang lebih awal, tapi Ibu saya nggak lantas langsung meninggalkan saya sendirian di pondok. Ibu saya nemenin saya selama 3 hari. Hihi. Jadi ibu saya ikut jadi santri baru waktu itu. Selama tiga hari Ibu saya di pesantren nemenin saya, Ibu saya mengajarkan banyak hal tentang kemandirian. Memantapkan hati, memastikan saya bisa melakukan segala sesuatunya sendiri. seperti ngajarin nyuci baju, Ibu saya ngajarin saya caranya mencuci baju pakai ember. Maksudnya dari ngucek sampai membilas langsung di ember, nggak usah pakai papan penggilesan. Diajarin juga cara memeras baju, wkwkwkwk. Sampai menjemur pakai hanger baju. LOL

Selain itu, Ibu juga ngajarin saya tentang nyuci piring setelah selesai makan. Biar tidak banyak numpuk barang kotor. Ngajarin juga untuk melipat baju langsung setelah baju kering diangkat dari jemuran, dengan cara seperti itu baju tidak lecek dan walaupun nggak disetrika baju tersebut nggak kulut-kulut (lecek banget).

Malam pertama tidur di pondok menjadi malam pertama yang saya rasa lamaaaaaaaa banget. Tidur di pondok yang mana tepatnya di tengah sawah, udah gitu musim panen pula, jadi banyak lembing dan kupu-kupu gatel. Rasanya kaya gimanaa gitu, tapi Ibu setia nemenin, ngelonin saya tidur, dan seperti malam-malam saat tidur di rumah, Ibu mendongeng sebelum tidur.

Ibu menenin saya tidur hanya dua malam tiga hari. Jadi waktu hari ke tiganya saya ditinggal Ibu pulang setelah Bapak jemput Ibu di pondok. Perjuangan dimulai sejak saat itu. Sejak pertama kali saya melihat punggung Ibu saya perlahan tak terlihat oleh mata saat pulang naik motor boncengan sama bapak. Malam ketiga tidur di pondok hakikinya adalah malam pertama saya sendiri tanpa orangtua. Keluarga saya saat itu adalah teman-teman sesama santriwati dan pengasuh juga ustadzah. Malam pertama di pondok benar-benar menjadi malam yang penuh air mata. Dan tahukah kamu? Hari ke lima saya di pondok, saya minta pulang! Karena Ibu nyainya masih saudara sama bapak saya, Ibu nyai mau mengantar saya pulang ke rumah seminggu setelah saya di pondok. Iyaps, baru seminggu saya sudah minta pulang. 

Kemudian saya di rumah selama seminggu, setelah itu saya diantar ke pesantren oleh bapak, bismillah niat mencari Ilmu di pesantren, sejak saat itu saya jadi betah.  Bisa pulang sebulan sekali bahkan menjadi 6 bulan sekali. hihihi

Itu lah sedikit cerita tentang pertama kali di pondok. Tulisan saya ini saya buat untuk menjawab tema mbak Marita Ningtyas (http://www.maritaningtyas.com/) dan mbak Dini Rahmawati (http://www.dinirahmawati.com/) semoga bisa diterima curhat singkat ini. :)

Comments

Popular posts from this blog

Granuloma Umbilikalis Pada Bayi

Assalamu’alaikum, sahabatku.. semoga selalu sehat, ya. Amin. . . Postingan kali ini saya mau bercerita tentang Granuloma Umbilikalis Pada Bayi . Ini tentang Nooha, anak kedua saya yang lahir pada tanggal 5 Januari 2017 yang lalu. Sampai hari ini usianya sudah 3 bulan 4 hari. Alhamdulillah dia tumbuh dengan baik, sehat, dan ceria. Harapannya tentu seperti itu, bukan? Tetapi, ada sesuatu yang pernah membuat saya khawatir, yaitu masalah tali pusarnya. Dia puput usia 7 hari, tapi saya melihat pada pusarnya itu masih ada yang basah, jadi proses lepasnya puput itu seperti belum waktunya gitu. Dan benar saja setiap hari ada bekas seperti nanah pada kaos dalamnya. Kalo saya ibaratkan itu seperti lelehan lilin yang menempel di kaos. Baunya khas tapi tidak seperti bau nanah, enggak pesing, ataupun bau enggak enak lainnya. Setiap hari ada bekasnya di kaos, sesekali membesar berwarna merah, seperti daging tumbuh. Nanti meleleh lagi, terus seperti itu setiap hari. Saya takut k

USAHA MIKRO; TETAP BERTAHAN DI TENGAH PANDEMI BERSAMA PIP

Kurang lebih 6 bulan masyarakat Indonesia berperang melawan pandemi Covid-19, dan hingga saat ini perang tersebut belum ada indikasi berakhir. Pandemi Covid-19 di Indonesia yang diketahui sejak awal bulan Maret 2020 harus memaksa sebagian besar masyarakat Indonesia untuk membatasi aktivitasnya agar penularan dapat dicegah. Dampak dari pembatasan tersebut mengakibatkan berbagai sektor terkena imbas akibat terhentinya aktivitas masyarakat. Di antara sektor yang paling parah terkena dampak Covid 19 adalah sektor ekonomi. Bukan hanya dalam skala makro, pandemi Covid-19 ini pun menghantam sektor mikro, bahkan tak tanggung-tanggung para pedagang kecil dan pelaku UMKM juga terkena imbasnya. Bahkan tidak sedikit dari mereka harus gulung tikar dan tidak dapat melanjutkan usahanya karena mengalami banyak kerugian, mulai dari turunnya pendapatan, hingga tidak lakunya barang-barang hasil produksi mereka.  Jika kita mau menengok lebih dalam lagi, UMKM di Indonesia sangat banyak jumlahnya, usaha ini

Kartu ATM Bisa Kadaluarsa

Mungkin pembaca bingung dengan judul postinganku ini, Masa iya sih Kartu ATM bisa kadaluarsa atau expired? Jawabannya adalah IYA. Ini kisah nyata lhoo ya, bukan fiktif. Hihihi.. sebelum mulai bercerita, mau tanya dulu, kalian semua punya kartu ATM kan? Hehehe.. Iya deh iya.. percaya kalian semua punya, bahkan seperti halnya gadget, kalian juga pasti punya lebih dari satu ATM kan? Hihihi..  Oke, mulai ceritanya ya, sebenarnya i ni cerita sudah beberapa tahun yang lalu, jadi waktu itu aku belanja di Mini Market deket kontrakan, karena bawa uang cuma Rp50.000 dan khawatir kurang, aku meminta Aby untuk mengambil uang di ATM dulu, kebetulan ada mesin ATM di dalam mini market tersebut. Nggak lama Aby berdiri di depan mesin ATM itu. Aku kira sudah ambil uangnya, ternyata belum dan Aby bilang kalau Kartu ATMku sudah kadaluarsa. Aku kaget donk ya, kok bisa kedaluarsa? Serius? Dengan deg-degan dan penasaran, aku minta kartu ATMku dan menuju ke mesin ATM. Hmmmm...  ternyata benar, waktu a