Skip to main content

Lima Kendala Penyusunan Tesis dan Tips Meminimalisir Kendala Tersebut



Salah satu tugas akhir yang harus dikerjakan oleh mahasiswa adalah membuat karya ilmiah berupa Skripsi (S1), Tesis (S2) dan Desertasi (S3). Begitu juga yang pernah saya alami sewaktu masih kuliah S1 di IAIN Walisongo Semarang, maupun ketika kuliah S2 di Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan tetap konsisten mengambil Pendidikan Bahasa Inggris (Linear).  Saat mengerjakan tugas akhir (Tesis) ada berbagai kendala yang sering saya hadapi dan itu sempat membuat saya down dan putus asa.

Diantara kendala yang pernah saya hadapi saat penyusunan Tesis adalah: pertama, waktu. Saat mengerjakan Tesis saya benar-benar harus pandai membagi waktu, karena saat itu kebetulan anak saya Noofa juga masih kecil, usianya baru enam bulan. Disamping harus mengerjakan Tesis saya wajib merawat Noofa dengan baik karena saat itu Noofa sudah mulai aktif gelimbungan kesana-kemari sehingga tidak bisa disambi dengan melakukan pekerjaan yang lain. Bukan hanya itu saja, saya juga harus memasak, membereskan rumah, serta tugas lainnya mengurus rumah tangga. Jadi bisa dibayangkan betapa repotnya saya saat itu, sehingga saya akhirnya memilih mengerjakan Tesis saat tengah malam di saat semua sudah tertidur baik suami maupun anak, meskipun berat tapi tetap harus saya lakukan karena waktu terbaik yang bisa saya gunakan untuk menyelesaikan Tesis adalah saat malam hari.
gambar pinjem dari blog solusitesis(dot)com
Kedua, minimnya referensi. Jujur saja  Tesis saya yang fokus pada kajian tentang pembelajaran anak berkebutuhan khusus masih jarang dilakukan sehingga kajian baik berupa hasil penelitian maupun buku tentang masalah tersebut sulit sekali didapatkan bahkan di perpustakaan kampus Unnes hampir tidak ada. Sehingga hal tersebut membuat penulisan Tesis saya akhirnya berjalan lambat.

Ketiga, sulitnya bimbingan. Saat penyusunan Tesis kebetulan saya mendapat dua orang pembimbing satunya bergelar guru besar satunya lagi bergelar doktor. Salah satu pembimbing saya adalah orang yang luar biasa sibuk. Kesibukan beliau menjadi kendala bagi saya, karena sulitnya bertemu beliau. Beruntung pembimbing ke dua saya cukup membantu saya dan tidak susah ditemui. Beliau sering standby di Kampus, atau kalau bimbingan seringnya di rumah beliau.

Keempat, printer yang ngadat. Disaat penulisan sudah selesai seringkali muncul kendala printer yang suka ngadat, mungkin diakibatkan karena saya sering ngeprint dalam jumlah banyak. Karena habis bimbingan dan revisi mau gak mau harus ngeprint yang baru sehingga membuat printer kadang-kadang ngambek dan rewel sehingga menjadikan pekerjaan penulisan Tesis menjadi terganggu.

Kelima, kurang tertib. Harus saya akui saya orangnya kurang tertib tertama dalam hal penataan berkas-berkas. Sehingga seringkali antara hasil tulisan yang harus direvisi, referensi dan data lainnya sering tercampur sehingga membuat saya pusing sendiri ketika membutuhkan data yang saya butuhkan. 

Dari berbagai kendala yang pernah saya alami saat penyusunan tugas akhir, beberapa pelajaran bisa saya petik. Berbagai kendala dalam penyusunan tugas akhir baik Skripsi, Tesis, Desertasi maupun tugas membuat karya ilmiah lainnya bisa diminimalisir dengan cara-cara sebagai berikut ini:
  1. Pilihlah waktu/saat yang tepat untuk mengerjakan tugas tersebut, terutama saat dimana anda merasa paling nyaman untuk mengerjakannnya sehingga hasilnya akan lebih maksimal. 
  2. Carilah referensi yang berkaitan dengan tugas-tugas yang akan anda selesaikan lebih awal sehingga saat pengerjaan tugas anda sudah tidak dipusingkan lagi dengan referensi yang kurang. 
  3. Jika kebetulan anda memiliki dua pembimbing saat penyusunan tugas akhir sebisa mungkin sebagai pihak yang dibimbing anda lebih baik mengikuti saran atau arahan pembimbing meskipun kadangkala sering tidak sesuai dengan keinginan anda, hal tersebut bertujuan agar lebih mempercepat waktu anda dalam menyusun tugas akhir. 
  4. Persiapkan dan cek terlebih dahulu printer anda sebaik mungkin sebelum anda akan ngeprint dalam jumlah banyak untuk menghindari kerusakan yang tidak diinginkan, atau printlah document anda dengan cara bertahap atau sedikit demi sedikit dengan harapan printer tidak terlalu capek sehingga terhindar dari kemacetan. 
  5. Simpanlah dokumen-dokumen anda terkait dengan tugas akhir di map-map yang berbeda, semisal document referensi di map warna hijau, document hasil revisi di map warna kuning, document data penelitian di map warna biru, dan lain sebagainya. Hal itu bertujuan agar dokumen-dokumen tidak tercampur dan memudahkan anda ketika membutuhkan data yang anda inginkan. 
  6. Bekerjalah dengan sabar, teliti dan penuh semangat dan jangan lupa berdoa sebelum dan sesudah mengerjakan tugas tersebut semoga hasilnya memuaskan.
Menyusun karya ilmiah apalagi tugas akhir baik Skripsi, Tesis, maupun Desertasi bagi sebagian orang merupakan momok yang menakutkan, akan tetapi semua itu bisa terlaksana dengan baik manakala dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

Comments

Popular posts from this blog

Granuloma Umbilikalis Pada Bayi

Assalamu’alaikum, sahabatku.. semoga selalu sehat, ya. Amin. . . Postingan kali ini saya mau bercerita tentang Granuloma Umbilikalis Pada Bayi . Ini tentang Nooha, anak kedua saya yang lahir pada tanggal 5 Januari 2017 yang lalu. Sampai hari ini usianya sudah 3 bulan 4 hari. Alhamdulillah dia tumbuh dengan baik, sehat, dan ceria. Harapannya tentu seperti itu, bukan? Tetapi, ada sesuatu yang pernah membuat saya khawatir, yaitu masalah tali pusarnya. Dia puput usia 7 hari, tapi saya melihat pada pusarnya itu masih ada yang basah, jadi proses lepasnya puput itu seperti belum waktunya gitu. Dan benar saja setiap hari ada bekas seperti nanah pada kaos dalamnya. Kalo saya ibaratkan itu seperti lelehan lilin yang menempel di kaos. Baunya khas tapi tidak seperti bau nanah, enggak pesing, ataupun bau enggak enak lainnya. Setiap hari ada bekasnya di kaos, sesekali membesar berwarna merah, seperti daging tumbuh. Nanti meleleh lagi, terus seperti itu setiap hari. Saya takut k

Kartu ATM Bisa Kadaluarsa

Mungkin pembaca bingung dengan judul postinganku ini, Masa iya sih Kartu ATM bisa kadaluarsa atau expired? Jawabannya adalah IYA. Ini kisah nyata lhoo ya, bukan fiktif. Hihihi.. sebelum mulai bercerita, mau tanya dulu, kalian semua punya kartu ATM kan? Hehehe.. Iya deh iya.. percaya kalian semua punya, bahkan seperti halnya gadget, kalian juga pasti punya lebih dari satu ATM kan? Hihihi..  Oke, mulai ceritanya ya, sebenarnya i ni cerita sudah beberapa tahun yang lalu, jadi waktu itu aku belanja di Mini Market deket kontrakan, karena bawa uang cuma Rp50.000 dan khawatir kurang, aku meminta Aby untuk mengambil uang di ATM dulu, kebetulan ada mesin ATM di dalam mini market tersebut. Nggak lama Aby berdiri di depan mesin ATM itu. Aku kira sudah ambil uangnya, ternyata belum dan Aby bilang kalau Kartu ATMku sudah kadaluarsa. Aku kaget donk ya, kok bisa kedaluarsa? Serius? Dengan deg-degan dan penasaran, aku minta kartu ATMku dan menuju ke mesin ATM. Hmmmm...  ternyata benar, waktu a

Jenis Sabun untuk 7 Langkah Cuci Tangan

Di beberapa tempat dengan gerakan cuci tangan sebagai praktik umum yang biasa dilakukan sehari-hari, banyak terdapat air bersih serta sabun, sebagian besar masyarakat justru tidak menyadari hal penting 7 langkah cuci tangan dengan sabun. Sementara pada lingkungan kumuh atau padat, maka kebiasaan mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun sebenarnya dapat membantu untuk menurunkan separuh dari jumlah penderita diare. Gambar pinjem dari web iinformasitips