Skip to main content

Foto di Kelas, Bukan Selfie Biasa

Bukan selfie biasa : di kelas PGMI

Assalamu'alaikum.

Bukan selfie biasa. Kok bisa?? Mungkin dengan melihat foto saya di atas akan ada orang yang berpikir, itu di kelas kok ya malah foto-foto, sih? Nggak mau kalah ya sama mahasiswanya, ya? Hmm!..  Pertama, foto ini saya posting di blog ini untuk saya ikutkan dalam lomba blog photo selfie story bersama smartfren yang mana berhadiah windows phone. Kedua, sudah sejak lama pengen bisa selfie begini karena memang selain untuk kenang-kenangan juga karena saya senang dengan apa yang sedang saya jalani saat ini. Bukan seneng selfienya, lho, ya.. Tapi senang dengan kegiatan mengajar mahasiswa. Apalagi mahasiswanya pro aktif saat dalam kegiatan belajar mengajar, tambah demeenn banget dan betah di kelas. #uhuk



Seperti halnya yang sudah saya tulis di biodata saya, di sana ada kolom cita-cita. Dan pada kolom tersebut pasti saya tulis "cita-cita saya ingin menjadi seorang abdi pendidikan". Dan alhamdulillah saat ini saya sedang menikmati apa yang sudah saya cita-citakan sejak dulu, menjadi dosen (walaupun berstatus) Dosen Tidak Tetap di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Pekalongan. Meskipun status saya di sana masih menjadi Dosen Tidak Tetap akan tetapi kebahagiaan membuncah karena ini adalah harapan saya sejak kecil. Saya ingin meneruskan kegiatan kedua orang tua saya, mereka adalah Guru SD di Desa Kesesi. Ditambah bersyukur manakala saya mempunyai seorang suami yang berprofesi menjadi Guru juga, di SLBN Ungaran. Kalau kata orang sih, keluarga kami keluarga guru. Ibu, Bapak, Suami, Pakdhe, Om, Bulik, banyak yang menjadi Guru. dan mereka GURU SD. Hehehe


Foto di atas adalah foto saya di kelas, saya ngajar mahasiswa jurusan PGMI (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah) sebuah jurusan yang mana mengantarkan  mereka sebagai calon guru MI atau SD. Hari itu saya ngajar narative dan simple past tense dan saya ngajar menggunakan medium movie. Salah satu kesunahan dalam mengajar di perguruan tinggi adalah berbasis riset. Dari hal tersebut saya coba menerapkan media movie untuk mengajar teks naratif dan simple past tense. Film yang saya putar adalah Film Cinderella. Nggak cuma anak-anak saja yang suka nonton film ini. Lihat saja mahasiswa saya, khusyuk sekali, kan, saat menonton film tersebut?


 Mengajar Bahasa Inggris itu gampang-gampang susah. Kalau enggak kreatif bisa-bisa mahasiswa makin tambah bosen di kelas. Soalnya saya juga pernah punya pengalaman di mana saya merasa jenuh dan nggak suka Bahasa Inggris waktu SMA kelas 2, Guru yang ngajar enggak banget. Hmmm.. Gimana, ya? Beliau kalo ngajar cuma datang ke kelas, ngabsen, langsung nyuruh buka LKS dan nyuruh ngerjain, sedangkan beliaunya malah ngantuk di kelas. Huft. Itu bener-bener bikin nggak nyaman. Lebih-lebih seringnya beliau usai ngasih tugas langsung keluar kelas sampai jam pelajaran selesai. Hmm.. Pernah nggak punya pengalaman seperti itu? Dari situ saya bener-bener banyak belajar dan saya sama sekali nggak pengen kaya gitu. Dari beliau saya juga belajar bagaimana ketika saya kelak menjadi Guru, saya nggak akan seperti itu. Hikmahnya, tentu saja saya ingin menjadi Guru yang baik dan ideal. Yang menjadi fasilitas siswa saat dibutuhkan. Bukan malah kabur-kaburan saat diperlukan. Hehehe..

Terlepas dari pelajaran Bahasa Inggris. Intinya mah saya bahagia dengan apa yang menjadi kesibukan saya saat ini. Menjadi pengajar tetapi tetep bisa quality time sama Noofa. Karena ngajarnya nggak full, seminggu ngampus cuma tiga hari. Hihihi

Bagaimana sih, Noorma di kelas? Idealnya sih ya, pengen jadi dosen yang baik, yang disukai mahasiswa, yang bisa membawakan materi dengan baik, yang bisa menjadikan mereka tertarik dengan apa yang saya sampaikan, tidak killer (sebutan bagi dosen yang susah), tidak sombong, bisa enjoy di kelas, ada humornya, ada tegasnya. Yaa pengennya jadi dosen yang baik semuanya, lah, ya. Apalagi kalau ngasih nilainya nggak pelit. Wehehe.. Bakalan jadi dosen idaman banget!! Nah, menjadi dosen yang seperti itu kan nggak bisa langsung dalam kurun waktu singkat. Semua butuh proses, dan saya sedang dalam proses tersebut. Bagaimana menjadi pengajar yang sukses. Bagaimana menjadi great teacher. Semuanya itu bisa dilakukan kalau ada saling mendukung antara dosen dan mahasiswa. Harapan saya juga seperti itu. Ingin menjadi pengajar yang pas dengan porsi saya. Pas segalanya, dan pas di mata mahasiswa. Amiin..




Comments

Popular posts from this blog

Granuloma Umbilikalis Pada Bayi

Assalamu’alaikum, sahabatku.. semoga selalu sehat, ya. Amin. . . Postingan kali ini saya mau bercerita tentang Granuloma Umbilikalis Pada Bayi . Ini tentang Nooha, anak kedua saya yang lahir pada tanggal 5 Januari 2017 yang lalu. Sampai hari ini usianya sudah 3 bulan 4 hari. Alhamdulillah dia tumbuh dengan baik, sehat, dan ceria. Harapannya tentu seperti itu, bukan? Tetapi, ada sesuatu yang pernah membuat saya khawatir, yaitu masalah tali pusarnya. Dia puput usia 7 hari, tapi saya melihat pada pusarnya itu masih ada yang basah, jadi proses lepasnya puput itu seperti belum waktunya gitu. Dan benar saja setiap hari ada bekas seperti nanah pada kaos dalamnya. Kalo saya ibaratkan itu seperti lelehan lilin yang menempel di kaos. Baunya khas tapi tidak seperti bau nanah, enggak pesing, ataupun bau enggak enak lainnya. Setiap hari ada bekasnya di kaos, sesekali membesar berwarna merah, seperti daging tumbuh. Nanti meleleh lagi, terus seperti itu setiap hari. Saya takut k

USAHA MIKRO; TETAP BERTAHAN DI TENGAH PANDEMI BERSAMA PIP

Kurang lebih 6 bulan masyarakat Indonesia berperang melawan pandemi Covid-19, dan hingga saat ini perang tersebut belum ada indikasi berakhir. Pandemi Covid-19 di Indonesia yang diketahui sejak awal bulan Maret 2020 harus memaksa sebagian besar masyarakat Indonesia untuk membatasi aktivitasnya agar penularan dapat dicegah. Dampak dari pembatasan tersebut mengakibatkan berbagai sektor terkena imbas akibat terhentinya aktivitas masyarakat. Di antara sektor yang paling parah terkena dampak Covid 19 adalah sektor ekonomi. Bukan hanya dalam skala makro, pandemi Covid-19 ini pun menghantam sektor mikro, bahkan tak tanggung-tanggung para pedagang kecil dan pelaku UMKM juga terkena imbasnya. Bahkan tidak sedikit dari mereka harus gulung tikar dan tidak dapat melanjutkan usahanya karena mengalami banyak kerugian, mulai dari turunnya pendapatan, hingga tidak lakunya barang-barang hasil produksi mereka.  Jika kita mau menengok lebih dalam lagi, UMKM di Indonesia sangat banyak jumlahnya, usaha ini

Mencetak Kemasan Makanan di Uprint untuk Usaha Snack

Halo, Assalamu’alaikum.. Apa kabar, Februari udah berjalan satu pekan, nih, dan di beberapa mini market udah mulai banyak bertebaran promosi coklat dan segala macam yang berhubungan dengan valentine. Saya sendiri sih enggak pernah merayakan hari Valentine secara khusus, ya. karena menurut saya semua hari sama saja, saya selalu memberikan rasa sayang dan cinta kepada pasangan... pun dengan sesama, eaaa... Kamu pernah ngeh nggak kalau kemasan masakan untuk coklat, kue, permen menjelang Valentine itu lucu-lucu. Saya sih selalu ngeh, bahkan beberapa kali pernah kepincut dan membeli coklat karena suka dengan kemasannya. Kalau Valentine begini mah kebanyakan kemasan warna pink gitu, ya. Tapi ada juga beberapa coklat yang kemasannya selain warna pink. Ngomongin masalah kemasan. Saya jadi ingat teman saya yang buka usaha kuliner snack/jajanan. Tapi dia bingung soal design kemasannya. Namanya usaha kuliner begitu kan hal yang pertama dipikirkan tentu soal personal bran