Keberhakan dalam Rumah Tangga

Bismillah.. Postingan ini mengandung curhatan, ya. Curhat seorang istri yang sudah dua tahun belakangan ini hidup berjauhan dengan suaminya. Meski masih terhitung dekat, namun tetap saja, ada rasa yang gimanaaa gitu ketika saya hanya bisa bertemu dengan suami seminggu sekali atau dua minggu sekali. Ada rasa yang kurang ketika anak hanya bisa melihat wajah ayahnya seminggu sekali, bahkan dua minggu sekali. Dua tahun ini saya anggap ini sebagai salah satu bagian wujud pengorbanan sementara untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Harapan dan doa kami memang demikian.

Ilustrasi, gambar ambil dari google :)

Bapak saya sering sekali menasehati saya. Katanya, barokahnya hidup berumah tangga, salah satunya adalah ketika suami istri hidup bersama, tidak berjauh-jauhan. Jadi, sejauh apa pun tempat suami kerja, asal dalam waktu sehari semalam itu, suami bisa pulang di rumah yang ada istri dan anaknya. Namun, bila dilihat jarak Ungaran Kesesi, tentu tidak tega bila suami harus bolak balik laju dari rumah ke sekolahan. Hehe. Meskipun begitu, tentu saya tetap berdoa agar tetap diberi keberkahan hidup berumah tangga. Apalagi bapak juga menambahkan, katanya pasangan suami istri akan ditambahkan dan dilapangkan rezekinya manakala mereka hidup bersama. Segala kondisi keuangan dalam rumah tangga tersebut asal tetap bersyukur. Selain dua itu, kebutuhan batiniyah pun harus juga diperhatikan. Pada intinya, sebenarnya nikmatnya hidup berumah tangga mana kala suami istri dan anak bisa bertemu di waktu setengah harinya.

Berbeda dengan Ramadhan tahun ini. Alhamdulillah, saya bisa bersama-sama menjalankan puasa Ramadhan bareng dengan suami dan anak di Semarang. Tugas mengajar saya sudah selesai, jadi saya bisa ke Semarang untuk bisa liburan di Semarang. Ramadhan kali ini saya rasa sangat nikmat, ada bahagia yang membuncah dalam lubuk hati, di mana saya bisa membangunkan suami untuk sahur, memasakkan beberapa menu untuk buka puasa, sholat berjama'ah, dan tadarus bareng suami. Sungguh, saya sangat bersyukur masih bisa diberi waktu untuk seperti ini. Meskipun suami tidak full di rumah karena Senin - Jumat kerja dari jam 6 sampai jam 4 sore. Tapi seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa saya ingin mencari keberkahan hidup rumah tangga, bertemu dengan suami di waktu setengah hari setiap harinya.

Nikmatnya lagi adalah, dua kali ba'da subuh dan ba'da maghrib sudah menjadi rutinitas yang tidak ditinggal selama ramadhan ini suami mendoakan janin anak kami berdua yang ada dalam rahim saya dengan cara menyentuh langsung perut saya dan membacakan doa. Sebenarnya sih, suami nggak pernah terlewat untuk mendoakan saya minimal alfatihah untuk saya dan Noofa, namun karena kami sedang bersama-sama, jadi suami bisa menyentuh langsung perut dan bisa mencium perut saya yang sedang ada janin di dalam rahim saya. Alhamdulillah 'alaa kulli haal. Saya benar-benar bahagia.

Lucunya lagi, nggak hanya suami saya yang begitu, bila suami hendak mendoakan kami, mbak Noofa rebutan megang perut saya dengan Abinya. Hehe..

"Noofa dulu yang doain adik bayi, Abi nanti". Kalimat itu pasti yang diucapkan Noofa. Kemudian Noofa megang perut sambil membacakan surat Al faatihah dan diakhiri dengan kecupan lembut mendarat di sekitar pusar perut saya. Hihi. Kalau sedang baca alfaatihah, Mbak Noofa nggak mau ada suara lain selain suara dia. Pokoknya lucu sekali. Alhamdulillah sejak usia 1,5 tahun Noofa memang sudah hafal surat alfaatihah. Dia juga kelihatan sayang banget dengan adik bayi. Karena memang adanya saya program anak kedua ini atas permintaan Noofa dan doa Noofa. Nanti saya posting di postingan lain saja untuk program kehamilan kedua saya, ya. Insya Allah.

Pada akhirnya, kenikmatan-kenikmatan yang saya rindukan kini saya bisa rasakan. Meskipun lagi-lagi ini masih sementara. Entah kapan bisa berakhir LDR kami. Harapan saya, semoga kami bisa melewati ini semua dengan ikhlas dan penuh rasa bersyukur. Saya juga berdoa semoga teman-teman yang LDR an dengan suami/istrinya bisa segera berakhir. Karena sebenarnya persoalan LDR ini salah satunya bisa diminimalisir mana kala ada yang mengalah. Ada teman saya yang suaminya sekolah lagi di luar kota, si istri ikut serta meskipun harus mengontrak rumah dan mengosongkan rumah pribadinya di kampung. Itu semua demi bisa hidup bersama-sama. Lalu saya? Insya Allah semoga segera berakhir kisah LDR ini. Amiin.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung di Blog Cah Kesesi Ayutea ini, Silakan tulis komentar untuk postingan ini.. :)

Mohon maaf.. spammer atau komentar dengan menyertakan link hidup akan saya hapus .. :)