Ketika Aby Harus Meninggalkan Pekerjaannya...

Keadaan setiap orang tidak selamanya stabil, seperti halnya roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Hidup yang penuh liku-liku membuat setiap insan dipaksa untuk berfikir tentang langkah apa yang paling tepat untuk dia jalani.

Suamiku adalah seorang pekerja keras, dia menghabiskan 17 jam dalam sehari semalam untuk bekerja. Pagi berangkat dari Ngaliyan pukul 06.00 ke Sekolahan di SLBN Ungaran pulangnya jam 13.00 wib. Istirahat sebentar di rumah, dilanjut sore jam 15.00 sampai jam 23.30 wib menjadi operator di warnet Marsmello.

Waktu yang teramat panjang untuk bekerja tak membuat suami mempunyai banyak waktu untuk istirahat, walau hanya untuk merebahkan badan. Ia mempunyai waktu untuk tidur hanya sekitar 4 jam dalam sehari semalam. Sungguh waktu yang sangat kurang, bukan? Namun ini menjadi suatu keharusan demi mendapatkan penghasilan lebih, mengingat status suami di SLBN Ungaran masih menjadi Guru Wiyata Bhakti yang upahnya tak seberapa. Itu yang menyebabkan dia harus mencari pekerjaan lain untuk mendapatkan pengasilan tambahan. Demi keluarga kecilnya.


Keadaan yang demikian membuat intensitas bertemunya kami sangat jarang. Pergi pagi pulang malam menjadikan komunikasi kami menjadi sangat kurang. Kami hanya mengandalkan alat komunikasi untuk berkomunikasi. Ya, karena hampir tidak ada waktu untuk ngobrol secara face to face. Jadi, kalau aku ingin cerita apa-apa, aku selalu SMS atau menelponnya. Kami dekat, tetapi jauh. Jujur dalam hati, sebenarnya aku ingin waktu dia lebih banyak untuk keluarga, aku merasa kurang diperhatikan, begitu pula dia yang akhirnya jarang bisa bermain dengan anak. Hmm.. Kadang aku bertanya dalam hati, sampai kapan aku begini?

Dua bulan lalu, suami sakit. Dalam keadaan sakitpun ia tetap memaksakan untuk tetap bekerja. Aku sedih, prihatin.., begitukah rasa tanggungjawabmu? lalu, bagaimana dengan kesehatanmu? Kamu sakit, sayang... Kamu harus istirahat...

Hingga keadaan semakin buruk, suami benar-benar lemas tak berdaya, kini aku yang menang, dia mau mengikuti saranku untuk ijin nggak berangkat kerja, baik ngajar di Sekolahan maupun di warnet. ISTIRAHAT! dia mau, Alhamdulillah waktu istirahat yang sebentar itu kami jadikan untuk berobat dan terapi.

*******

Tiga minggu sudah waktu berlalu, (mungkin) dia baru sadar akan pentingnya istirahat. (mungkin) dia baru paham bagaimana rasanya sakit karena kecapean. (mungkin) dia baru mengerti bagaimana indahnya bisa berkumpul dengan keluarga. Ya, suamiku kini sudah sembuh dari penyakit yang dideritanya beberapa waktu lalu. Dan, kini saatnya dia mulai berpikir, akan kembali kepada keadaan semula atau berubah. Aku membebaskannya untuk memutuskan apa yang dia inginkan.

Aby : "Umy.. boleh nggak kalau Aby off dari warnet? rasanya udah capek, tapi ya resikonya Aby kehilangan penghasilan dari warnet."
Umy : "Umy manut aja, gimana baiknya, yang penting Aby sehat aja dulu, masalah mau kerja di warnet lagi atau enggak, nanti dibicarakan lagi."

Satu minggu kemudian, suamiku bertanya pertanyaan serupa tentang rencananya dia mau keluar dia dari warnet, dengan alasan dia ingin istirahat. Ingin banyak waktu bersama keluarga, dan trauma kalau harus sakit seperti kemaren.

Jujur dalam hati, aku seneng banget Aby bilang seperti itu. Demi kesehatan, demi keluarga, Aby memutuskan untuk keluar dari warnet. Aku juga nggak mau kehilangan dia, kesehatan dia lebih penting. Biarlah akhirnya kami kehilangan penghasilan dari warnet yang tak seberapa itu. Yang terpenting adalah ketentraman bathin ketika bisa banyak waktu bertemu istri dan anak, kebahagiaan yang menyelimuti jiwa ketika bisa melihat senyum istri dan anak.
Ya Allah.. Kami ingin bisa selalu bersama, Sakinah Mawaddah Warohmah.. Amin...
Allah Maha Pemberi Rezeki, Aku yakin itu. Saat ini memang keadaan kami sedang diuji, namun kami tetap bersyukur. Meskipun kami mendapatkan sedikit pendapatan, banyak hikmah yang kami dapatkan, kami kini punya banyak waktu bersama, bisa sholat berjamaah, bisa bermain dengan Noofa, bisa melihat tingkah lucu bagian dari perkembangan Noofa, mendapatkan ketentraman jiwa, bisa menikmati masakan yang aku sajikan, dan masih banyak lagi. Aku yakin, Aby akan mendapatkan pekerjaan lain yang lebih dari operator warnet. Saat ini memang sedang masa mencari pekerjaan sampingan yang tidak menyita banyak waktu, yang bisa dilakukan di rumah sambil bermain dan bercanda dengan anak dan istri. Semoga, ini adalah keputusan yang terbaik yang kami pilih. dan yang paling penting Allah meridhoi setiap pekerjaan yang kami kerjakan. Amin!

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung di Blog Cah Kesesi Ayutea ini, Silakan tulis komentar untuk postingan ini.. :)

Mohon maaf.. spammer atau komentar dengan menyertakan link hidup akan saya hapus .. :)