Innaa lillahi wa inna ilaihi rooji'un

"umi.. Mbah Buyut sudah sembuh, ya.. Itu infusnya sudah dilepas,  ya.."

Kalimat yang diucapkan Noofa ketika melihat mbah buyut tanpa infus.

Setelah simbah sudah tidak bernyawa lagi, infusnya dilepas oleh Om saya, dia bukan perawat atau pun dokter, tapi melepas jarum infus yang menempel di jenazah tentu tidak begitu khawatir salah. Begitu yang diucapkan Om saya.


Foto sudah lama banget, th 2009 

Jam 02.15 dini hari, Selasa 1 Maret 2016. Hari Selasa kliwon, Ibu pulang ketuk-ketuk pintu rumah. Karena jam segitu jam waktunya orang istirahat. Suara ketukan pintu menjadi sangat mengagetkan.

"Fiiitt.. Uuull.. Bukain pintu..." beberapa kali saya mendengar setelah saya kaget terbangun..

Tak lama kemudian, adik saya yang bangun membukaan pintu karena saya harus menggaruki Noofa yang ndilalah malam itu tidurnya tidak nyenyak dan rewel.

"Simbah sudah nggak ada.." singkat ibu saya yang baru saja dibukakan pintu karena ibu dari rumah simbah, beberapa anaknya kumpul menjaga simbah, termasuk ibu saya.

"Innaa lillahi wa inna ilaihi rooji'un" ucap kami berdua, adik dan saya.

"Jam brp bu?"

"Baru saja, jam 02.10"

"Kok nggak bilang dr tadi".. Kalimat terus diucapkan adik saya dengan rasa menyesal karena tidak bisa melihat simbah lagi. Kami semua sangat sedih, kehilangan sekali. Simbah satu-satunya dari keluarga Ibu pun sudah dipanggil sang Kholiq. Setelah hampir 5 tahun lalu simbah kakung dahulu 'pulang' kepada-Nya.

Kemaren, Senin 29 Februari 2016. Kami semua berkumpul, membimbing kalimat thoyyibah di telinga simbah, saya yang baru pulang dari kampus, langsung ke rumah simbah dan duduk di samping simbah, bisa ikut membimbing kalimat "laa ilaaha illa Allah" terus menerus di telinga kanan simbah. Rasanya nggak tega melihat simbah seperti itu.

Simbah, sebelum pergi, sudah mapan, minta kakinya diluruskan, meskipun sulit ngomong, tapi alhamdulillah simbah tetap ingat kepada Allah. Saya juga masih bisa membimbing simbah baca dua kalimat syahadad di telinga simbah, pelaaaan pelaaaann.. Simbah bisa mengucapkan hingga selesai.

"Iki dino opo?" tanya simbah.

"Senin, mbaah.. Tanggal 29 Februari" jawab saya.

Beberapa orang datang menjenguk simbah, bersalaman, dan saling minta maaf, minta ikhlas dimaafkan apabila ada kesalahan.


Simbah... Insya Allah kami semua akan mendoakan simbah. Simbah baik-baik di sana.. Seharian kemaren hujan, simbah pasti kedinginan di pembaringan terakhir. Pipit yakin.. Simbah akan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Insya Allah khusnul khotimah. Bisa kumpul lagi dengan simbah kakung di syurga. Terima kasih ya, Mbah. Sudah sabar sekali dalam membesarkan anak-anak simbah, sehingga saya menjadi beruntung mempunyai Ibu yang sabar berkat didikan simbah. Selamat jalan, simbah. Lihat.. Mbah, kami kumpul di rumah simbah semua. Untuk simbah.. Kami akan jaga selalu wasiat simbah untuk selalu rukun dengan saudara. Insya Allah.

Khusushon ilaa rukhi SITI NURIYAH BINTI SURYADINOMO, alfaatihah..

Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa'aafihaa wa'fu'anhaa...

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung di Blog Cah Kesesi Ayutea ini, Silakan tulis komentar untuk postingan ini.. :)

Mohon maaf.. spammer atau komentar dengan menyertakan link hidup akan saya hapus .. :)