Mbok ya Jangan Ugal-Ugalan tho, Le !

Hari senin minggu lalu, saat aku pulang ke Kesesi dari Semarang. Ada kejadian yang membuat aku deg-degan setengah mati. Ditengah perjalanan, tepatnya di Kendal aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, ada seorang bapak-bapak tua yang membawa jeruk bali didalam keranjang dengan motor tuanya. Bapak tersebut berada di tengah bersebelahan dengan motor kami yang dikendarai Aby. Aby melaju motornya pelan, kecepatannya sekitar 40 km/jam. Ya sangat pelan dunk ya untuk ukuran melaju di jalan pantura. Si bapak tua itu ke tengah mungkin karena mau balik arah ke timur, si bapak ke tengah menuju jalan putar balik arah yang ada di depan sekitar 200 meter dari titik pertama kami bertemu. Memang, aku sendiri melihat si bapak tidak menyalakan lampu sign ke kanan, mungkin juga karena lupa, lagipula lampu signnya tertutup dengan keranjang yang berisi buah tadi.


Dari belakang terdengar suara motor yang melaju lumayan kencang, suara motornya pun khas sekali, motor 2 tak yang sangat bising. Aku mbatin, duuh.. si bapak itu kok kaya ragu-ragu gitu ya, apa karena buah yang dibawanya terlalu berat makanya naik motornya kaya gitu, entah aku nggak tau pasti. Tapi aku meminta aby untuk mengurangi kecepatan karena feelingku sudah merasa nggak enak banget. Dan benar adanya, baru saja aku meminta aby untuk mengurangi kecepatan, si motor bising itu dikendarai anak kecil usia SMP, naik motornya ugal-ugalan seakan-akan jalan itu jalan punya dia sendiri, si anak itu juga malah melihat ke tepi jalan dan ngomong nggak jelas sama temannya yang ada di sana, bukannya fokus ke depan dan berhati-hati. 

"Braaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkk" suara itu memang tidak begitu mengagetkanku, namun sukses membuat aku deg-degan. Motor bising itu sempat tidak seimbang, namun dia tetap melaju tambah kencang. "Bocah EDAN!" gumamku. Naik motor seenaknya sendiri. Semantara di bapak yang kalang kabut, buah besar itu berserakan ke jalan, semua berhamburan keluar dari tempatnya, motor bapak itu tidak rubuh karena memang tersangga oleh keranjangnya. Beliau langsung mengamankan diri, untuuuung saja, pantura lengang saat itu, coba bayangkan bila ada mobil yang juga melaju kencang di belakangnya? Tidak bisa kubayangkan!

"By.. kenapa nggak berhenti?" 
"Susyah my, situasinya gak memungkinkan"
"Kasian bapaknya by, kalau nggak ditolong"

Kami sempet mengerem motor kami, belum juga kami turun, tapi disekitar sudah banyak orang yang menolong si bapak. Aku pengen banget nolong bapak itu, tapi juga menggendong Noofa yang sudah terlelap. Kata Aby, gapapa, itu bapaknya sudah ada yang nolong. Jadi kita nggak usah turun ya!.. Memang banyak banget yang nolongin bapaknya, mereka adalah orang-orang yang ada di tepi jalan, Alhamdulillah!

Kami lanjut lagi perjalanan yang baru setengah jalan itu, deg-degan juga sambil ngedumel, itu si anak kurang ajar banget sih, main tabrak lagi, naiknya ugal-ugalan kaya jalane dewe, iih.. itu anaknya siapa sii?? orangtuanya tau nggak yoh kalau anaknya naik motornya kaya pembalap amatir gitu..?
Kejadian seperti itu memang bukanlah yang pertama aku saksikan, dan kebanyakan adalah anak-anak labil gitu, yang punya rasa hebat ketika naik motor, wah wahhoo tenan.

Kalau aku yang punya anak gitu, motor aku sita, aku larang dia naik motor lagi. hahaha.. Mbok ya Jangan ugal-ugalan gitu to, Le.. Wis ngunu gak tanggung jawab sisan!. huuft!

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung di Blog Cah Kesesi Ayutea ini, Silakan tulis komentar untuk postingan ini.. :)

Mohon maaf.. spammer atau komentar dengan menyertakan link hidup akan saya hapus .. :)