Pengalaman Kena Razia POLISI



Berbicara tentang SIM, ada cerita yang sampe kini tidak bisa aku lupakan, bahkan sangat menggelitik. Kira-kira sebulan sebelum aku membuat SIM ditahun 2008 lalu, aku disuruh mengantar sahabat karibku membeli sesuatu ke daerah Pasar Johar di jalan Pemuda – Semarang. Karena aku memang belum pernah mengendarai motor sampai ke daerah sana, aku tidak tau kalau disana ada daerah jalan satu arah. Sesampaianya disana kami berbelanja, niatnya setelah belanja kami akan singgah sebentar di daerah kota lama Semarang, karena tidak taunya kami akan jalur satu arah tadi, sebagai pengendara motor yang seharusnya aku belok kiri setelah lampu lalu lintas, aku malah lurus saja dengan pedenya menerobos jalur searah yang memang dilarang keras untuk dilalui. Nah, pas di depan lampu lalu lintas yang kami lewati ada pos polisi dan seorang polisi sedang berjaga di pos itu, maka spontan terdengar bunyi pluit. “Priiiiiiiiiiiiiiit!!!!” Awalnya aku tidak tahu kalo suara pluit itu dituju untukku sebagai tanda bahwa polisi tersebut meminta aku ke pos polisi karena telah melanggar menerobos jalan satu arah tersebut. Aku masih saja santai berjalan tanpa peduli sekitar, padahal aku sadar dan bertanya-tanya dalam hati “Kok motor yang lain dari arah yang berlawanan rame banget yak, sedangkan aku sendirian”.  But, yang namanya kepedean sudah menguasai diriku, aku pun lanjut tak berhenti walau dengan laju yang sangat pelan. Sampai akhirnya ada pengendara lain yang melihat aku dan berteriak meminta aku berhenti, dan ternyata Pak Polisi yang berjaga di pos polisi itu mengikutiku, mengejarku hingga berada diposisi yang sejajar denganku. Hmmm… Dag dig dug jantungku, akupun gemeteran, karena ini adalah pengalaman pertamaku berhadapan dengan pak polisi.


“Selamat siang, Mbak!”
“Siang, Pak!”
“Mbak tau kenapa saya kejar?”
“hehee.. emangnya kenapa, pak?”
“Ini jalan satu arah, mbak mau kemana?”
“Jalan-jalan ke Kota Lama, Pak!”
“Harusnya lampu bangjo tadi, mbak belok kiri, bukan lurus.. mau ditabrak sama motor-motor lain yang lewat dari depan sana?”
“Lha wong saya ndak tau owk, pak. Baru pertama kali lewat sini”
“yasudah, minggu depan sidang ya!” pak polisi tersebut lalu menulis surat siding yang ku lihat disana tertera tanggal 18 Desember 2008.


Belum selesai polisi itu menulis dan sebelum bertanya siapa namaku. Aku langsung menolak untuk sidang dengan alasan aku ada ujian semesteran di Kampus pada tanggal itu. Lalu Pak Polisi menawarkan untuk hari lain, tapi aku tetep alasan tidak mau karena ujian sampai 2 minggu. Tawar menawar berlansung semi dramatis karena aku mendadak menjadi seperti anak dari Polisi tersebut dan merengek-rengek. Sampai sahabatku saja bilang, “Kasiani kami, Pak.. gimana caranya supaya STNK kami tidak disita, tapi kami tidak mau sidang karena memang seminggu lagi kami ujian”.

Nah, mendengar rengekan kami, akhirnya Polisi tersebut menawarkan untuk ‘damai’. Hmm.. sudah aku tebak, kata ‘damai’ pasti tidak luput dengan yang namanya ‘uang damai’. Aku juga berperasangka buruk saat itu, ‘uang’ yang dia terima pasti akan masuk ke kantong pribadinya, bukan masuk ke Kas Negara. 

Benar saja dugaanku. Polisi tersebut memintaku untuk membayar uang sebesar Rp. 100.000,-. 


“Ya sudah, Mbak. Nggak usah sidang, tapi bayar seratus ribu, ya!”
“Hah? Seratus ribu, Pak? Mahal banget sih..!”
“Ya, karena Mbak e melanggar dua pasal. Yang pertama menerobos jalur searah, yang kedua Mbak e nggak punya SIM, setiap pasal dikenakan denda lima puluh ribu.” Polisi itu menjelaskan.
“Lha kalo sidang berapa duit yang kami bayar, Pak?”
“Saya tidak tau, Mbak. Nanti tergantung pengadilan yang menentukan.”

Langsung lemes aku saat itu, tapi bukan Noorma namanya kalau mau begitu saja membayar denda dengan uang segitu. Aku mencari alasan supaya bisa membayarnya dengan yang lebih murah. 


“Pak, mbok yo jangan segitu. Uangku tinggal dikit soalnya tadi habis buat belanja di Toko Jangkrik.” (bayangkan saja expresine memelas dan merengek-rengek)
Sahabatku saja ketawa melihat tingkahku yang ‘berani’ manja dengan Polisi itu, padahal Pak Polisinya tinggi tegap, terlihat sangar. Hahahaha…
To the point saja, aku buka dompetku, ku tunjukkan kepadanya kalau isi dompetku tinggal selembar uang Rp. 50.000,-
“Ni, Pak. Uangku tinggal ini thok!”
“Lha mbak yang ini (sambil menunjuk sahabatku) nambahin tho!”
“Nggak ada, Pak. Lha wong tadi kan aku dah bilang kalau uang kami sudah habis tinggal ini thok!”
“Ya sudah gak papa, lima puluh ribu juga gak papa!”
“Aduh, Pak! Mosok uang tinggal selembar ini thok mau diambil semua sih, Pak?”
“Udah, nggak ada tawar menawar lagi!” Polisinya mulai galak.
“Ihh.. Bapak mah nggak kasian. Aku kan mahasiswa, Pak. Anak kost pula. Uang segini sangat berarti buatku, ini saja bensin belum aku isi, sudah jam segini juga waktunya makan siang. Kalau aku kasihkan semua uang yang aku punya, lha terus nanti isi bensin dan uang buat beli makan pake uang siapa?” asli saat itu aku ngeyel banget supaya dapat gratis tanpa membayar maupun tanpa sidang. Bhahahaha!
“Ya sudah kamu bayar empat puluh ribu, ya!”
“Ahh Bapak… sepuluh ribu Cuma bisa buat bensin, tuh motorku udah empty tangki bensinnya” Masih ngeyel aja
Pie tho, Mbak?”
“Gini aja wis, Pak. Aku kasih lima puluh ribu ini, tapi Bapak kasih aku dua puluh ribu, gimana? Sepuluh untuk makan berdua sama temenku ini, yang sepuluh ribu lagi untuk beli bensin.”
“Polisi kok dinggateli” sambil senyum tapi agak kesel karena melihat aku yang ngeyel.
“Lho, Pak. Saya nggak nggateli Bapak lho, ini fakta. Emang saya bisanya segitu, pie, Pak?”
“Ya sudah, sini mana uangnya!” sambil meminta uangku, Polisi itu membuka dompetnya, dikeluarkan uang dari dompetnya sebesar Rp. 20.000,- dan memberikannya kepadaku.
“Lain kali jangan melanggar lalu lintas lagi, kalau melanggar ketemunya saya lagi, awas kamu. Nggak bakal bisa tawar menawar lagi, wis ngelanggar, ngeyel sisan” Pak Polisinya menasehati aku sambil ngedumel.
“Siap, Pak! Saya juga mau bikin SIM biar nggak kena tilang lagi. Ini terpaksa, Pak. Disesuaikan dengan keadaan, hehehe”. Masih juga menanggapi omongan Pak Polisi tersebut.
“Makasih, Pak… Bapak baiiiik banget”. Pujiku melanjutkan
“Ya sama-sama, yasudah sana pulang, hati-hati”
Nggeh, Pak”. Lalu saya salaman dengan Polisi itu, seperti salaman dengan bapakku sendiri, saya cium tangannya. 


Setengah jam kurang lebih berada di Pos Polisi itu, akhirnya aku bisa pulang, tanpa sidang dan berhasil menawar denda yang mulanya seratus ribu menjadi tiga puluh ribu. Haahh.. rasanya nggak percaya sendiri, karena aku bisa merengek-rengek manja dengan seorang Polisi lalu lintas yang terkenal galak. Syukurlah!

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung di Blog Cah Kesesi Ayutea ini, Silakan tulis komentar untuk postingan ini.. :)

Mohon maaf.. spammer atau komentar dengan menyertakan link hidup akan saya hapus .. :)