Noorma Dahulu dan Noorma Sekarang

Entah apa yang membuatku ingin bercerita tentang diriku sendiri disini, membaca kisah Vania, aku jadi teringat tentang masa kecilku dulu, kilas balik masa lalu yang terkadang bisa membuatku menjadi sosok itu lagi. yaah.. aku yang dulu adalah anak yang kuper, nggak bisa bergaul dan cengeng.

Kurang lebih 25 tahun yang lalu aku lahir di dunia ini dari rahim seorang Ibu yang bernama Bu Niyah, dan aku mempunyai bapak yang bernama Miftahudin, aku lahir di tanah transmigrasi di Lubuk Linggau, Sumatra Selatan. hidup seadanya ala kadarnya seorang transmigran, kata Ibuku, sewaktu umurku 8 bulan, aku jatuh dari amben yang tingginya kurang lebih 2 meter, dengan posisi yang terkurep hingga aku tak bernafas lagi, mungkin ini yang namanya mati suri, kata Ibuku kurang lebih 5 jam aku tak bernafas, Ibu dan bapakku panik, menangis dan kebingungan, sedangkan ke dokter saat itu jauh, hanya bisa berjalan kaki dengan jarak tempuh sekitar 10 kilo meter menelusuri hutan rimbun, tak jarang juga ketika melewati hutan itu kaki bapak dan Ibuku di gigit hewan yang bernama lintah. Karena waktu sudah petang, akhirnya Ibu hanya minta tolong pada salah satu warga setempat, dan pada saat itu yang dipikiran Ibuku adalah, "pokoknya, anakku mati atau hidup, mau nggak mau besok harus pulang ke Jawa". 

Wajar saja jika Ibuku terus menangis, karena aku adalah anak pertamanya. saat panik itu, Ibuku menggigit jempol kakiku dengan keras, berharap aku bisa bangun, dan bersyukurlah karena setelah Ibuku menggigit jari jempol kakiku akhirnya aku menangis lagi, artinya aku hidup kembali. Rasa senang bercampur haru, bisa mendengar tangisku lagi. Tapi karena ucapan nadzar Ibuku itu, keesokan harinya Ibuku dan Bapakku pun pulang ke Jawa.

Kisah awal Noorma di mulai sejak hidup di Jawa....

Sesampainya di Jawa, Ibuku menjadi sangat protek terhadapku, aku tidak pernah boleh keluar rumah kecuali dengan keluarga, sampe aku umur 5 tahun aku tidak pernah keluar rumah, jika mau bermain dengan teman, maka temanku lah yang datang ke rumah, bukan aku ke rumah dia, tujuan Ibuku sih supaya Ibuku bisa memantau aku terus. tapi aku malah menjadi anak yang kuper, yang tidak punya banyak teman, dan tidak pernah tau nama tetangga.

Naah.. baru setelah aku masuk sekolah TK Bustanul Athfal Aisyiah, aku bisa merasakan udara luar dan suasana luar, tapi aku malah tak berani, selalu saja minta anterin Ibuku ke Sekolah, dan Ibuku juga menunggu aku sampe pulang. Aku menjadi anak yang minder, tak berani maju jika di suruh Bu Guru dan menjadi anak yang pendiam juga cengeng. Sungguh Ironi...

Setelah TK, aku melanjutkan studiku ke SDN 01 Kesesi. belum ada kemajuan pada diriku, aku masih cengeng, masih kuper, masih minder, dan tidak punya banyak teman. Ibuku pun mulai kawatir dengan keadaanku yang seperti itu, sepelenya tidak mengerjakan PR saja, aku tidak mau berangkat sekolah, karena takut dimarahin Guru. makanya tak jarang PRku dikerjakan oleh Ibuku.

Melihat keadaan ku yang seperti itu, Ibuku dan Bapakku berencana untuk menyekolahkan aku di Pesantren, dengan tujuan aku bisa mandiri dan berdikari. Setelah lulus SD, rencana itupun diwujudkan oleh kedua orang tuaku. akupun nyantri di Pondok Pesantren Modern Daaru Ulil Albaab, Kedung Kelor - Warurejo - Tegal. Ini adalah salah satu pondok cabang Ponpes Modern Gontor Ponorogo.

Awal di pondok, aku tidak tau apa-apa, nyuci sendiripun tidak bisa. Sampe akhirnya tiga hari Ibuku bermalam di pondok guna nemenin aku dan ngajarin aku, disamping itu juga sebenernya Ibuku belum tega kalo harus ninggalin aku sendirian, mengingat diriku adalah anak yang belum bisa mandiri sama sekali. Tapi bagaimana aku bisa mandiri, jika Ibuku juga tetap memanjakan aku?

Bismillah.. ucap Ibuku, setelah tiga hari nemenin aku, akhirnya Ibuku pun pulang dan merelakan aku hidup di pondok itu. seraya berdoa untuk kebaikanku.

Dan kisah kedua Noorma juga akan di mulai di pesantren ini...

Setiap hari, aku digembleng oleh para Ustadz dan Ustadzah, dibentuklah sebuah karakter yang mandiri dan berdikari, akupun mulai terbiasa dengan semua kegiatan yang sudah terjadwalkan mulai dari bangun tidur sampe tidur lagi. Banyaknya kegiatan yang ada di Pondok membuatku belajar menjadi anak yang bisa bertanggung jawab pada diri sendiri, memenej waktu dengan sebaik-baiknya, dan belajar bagaimana bersosialisasi dengan banyak teman yang berbeda sifat dan karakternya. Yaah.. memang tak jarang rasa jenuh itu datang ketika semuanya bergantung dengan dering bell. Tapi inilah aku, yang ingin merubah keadaanku supaya tidak lagi menjadi anak yang cengeng dan kuper.

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, akupun bisa menjadi manusia baru. Disana, setiap santri-santriwati di wajibkan mengikuti semua kegiatan, dan dari beberapa kegiatan, Ustadzkupun mempercayakanku untuk menjadi roisah (ketua). Dari situ aku di latih bagaimana menjadi pemimpin yang baik, bertanggung jawab atas anak buahnya. Setiap kegiatan pramuka, aku menjadi pinru. Rebana aku menjadi ketua rebana putri, OPPM (Organisasi Pondok Pesantren Modern) aku tak mau jadi ketua, dan akhirnya aku menjadi sekretaris. dan masih banyak lagi kegiatan yang dimana aku dijadikan ketua, misalnya pementasan, speech contest, panggung akhiru sannah, ataupun lomba-lomba menyambut 1 Muharrom dimana aku dijadikan sebagai ketua panitia.

Aku seakan lahir kembali menjadi anak yang mandiri, banyak sekali piala yang aku dapatkan dari berbagai lomba, dimana Rebana menjadi juara 1, cerdas cermat juara 1, dan lomba-lomba yang lain. Sehingga Ustadz dan Ustadzahkupun bangga dengan apa yang aku dan teman-temanku raih.

Perjalanan tidak hanya di pondok, sayangnya aku hanya tiga tahun nyantri disana. setelah itu akupun melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas di MAN 2 Pekalongan, salah satu sekolah Aliyah favorit di Pekalongan. Disana aku masih punya semangat untuk mengikuti berbagai kegiatan, seperti kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan lainya.

Alhamdulillah aku sudah bisa bergaul dengan baik, bekal ilmu dari pesantren aku bisa terus aplikasikan kepada kehidupanku selanjutnya, aku sudah punya banyak teman, bukan lagi anak yang cengeng, bukan lagi anak yang manja, bukan lagi anak yang minder, dan bukan lagi anak yang kuper. Aku selalu inget dengan ayat Allah yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” QS 13:11
Maka dari itu, kalo bukan aku, siapa lagi? Pesantren adalah perantara Allah saja. Alhamdulillah perubahan itu bisa aku rasakan. Puji syukur sekarang aku bisa menjadi diri aku sendiri, Ibuku pun bangga dengan perubahan yang aku alami.

Waktu kuliah di IAIN Walisongo pun aku menjadi pejabat teras HMJ Prodi Bahasa Inggris tahun 2006-2007. Dari organisasi inilah yang membuat aku punya banyak teman. Tapi aku tidak pernah lupa tujuanku adalah mencari ilmu, sekalipun aku disibukkan dengan kegiatan-kegiatanku, tidak boleh lupa dengan prinsip awal yaitu "THOLABUL ILMI". Maka dari itu, aku buktikan dengan kelulusan ku dengan nilai cumlaude saat S1, dan sekarang bisa melanjutkan studiku ke jenjang yang lebih tinggi ke Pascasarjana.

Disamping itu manfaat lain dari kegiatan-kegaiatan yang aku ikuti adalah aku bisa bertemu dengan jodohku (suamiku). Yahh.. Jurnalistik Kampus lah yang mengenalkan aku dengan suamiku, betapa manfaatnya gemblengan di pesantren dulu. Sehingga aku sekarang bisa menjadi seperti ini. Puji Syukur....... Alhamdulillah........

Dari kisahku yang aku tulis diatas, bisa ditarik kesimpulan, kadang proteksi orang tua yang berlebihan akan membuat anak tidak mandiri. Perubahan yang terjadi pada diri manusia itu bukan karena orang lain, tapi karena diri sendiri, seandainya ada orang lain andil itu adalah sebagai perantara kita untuk berubah. Betapa banyak manfaat dari keikutsertaan kita pada berbagai kegiatan, selain banyak teman, pengalaman juga akan banyak kita dapatkan. Sungguh indah hidup kita jika kita bisa mengindahkan kehidupan kita :)

Itu saja, yang bisa aku tulis, kurang lebihnya aku mohon maaf, semoga ada yang bisa dipetik. Amin..

Keep Blogging and Happy Blogging :)


Aku juga ucapkan Happy Birthday untuk blog Pensieve, semoga makin terus bisa berkembang dengan karyanya. dan Selamat ulang tahun untuk Vania, semoga Vania bisa menjadi anak yang periang, tidak murung-murung lagi. Sentuh Vania dengan kasih sayang tulus... :)

Tulisan ini diikut sertakan dalam Our Pensieve's 1st Giveaway yang diselenggarakan oleh Kak Thia (The Green Pensieve)

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung di Blog Cah Kesesi Ayutea ini, Silakan tulis komentar untuk postingan ini.. :)

Mohon maaf.. spammer atau komentar dengan menyertakan link hidup akan saya hapus .. :)