HIKMAH DIBALIK MUSIBAH

Minggu (11/3/2012) seluruh masyarakat Jepang memperingati satu tahun terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami yang menelan korban tewas kurang lebih 15.854 orang, dan 9.677 orang terluka serta 3.155 orang dinyatakan hilang. Jutaan orang di seluruh negara bunga sakura tersebut pada hari itu menundukkan kepala dan memanjatkan do’a tepat pada pukul 14.46 waktu setempat yang merupakan waktu dimana gempa berkekuatan 9,0 MMS (moment magnitude scale ) menyerang bagian timur laut (kota Tohoku) Jepang dan mengakibatkan gelombang besar tsunami yang menerjang pantai dan meratakan kota-kota.
Apa yang terjadi di kota Tohoku (Jepang) mengingatkan kita tentang bencana serupa yang pernah melanda tanah air, yaitu di kota Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) serta Sumatera Utara pada 26 Desember 2004 lalu. Saat itu gempa dengan kekuatan kurang lebih 9,3 Scala Richter (SR) mengakibatkan gelombang tsunami dahsyat yang meratakan seluruh pesisir pantai Aceh hingga sebagian pesisir pantai di Sumatera Utara. Bukan hanya Indonesia saja, sebagian wilayah pesisir Malaysia, Thailand, India, Srilanka dan sebagian pantai timur Afrika juga kena terjangan dahysat tsunami.
Tsunami Aceh diklaim sebagai salah satu bencana terbesar abad ini, karena jumlah total korban meninggal diperkirakan hampir mencapai angka 200.000 orang yang sebagian besar adalah warga Aceh, korban yang luka diperkirakan ratusan ribu dan yang hilang puluhan ribu orang. Sedangkan kerugian material akibat tsunami Aceh tak terhitung jumlahnya.
Bencana gempa dan tsunami yang pernah terjadi baik itu di Tohoku (Jepang) maupun Aceh (Indonesia) merupakan salah satu pelajaran berharga bagi kita semua. Bencana tersebut juga menunjukkan bahwa sehebat dan semaju apapun suatu Negara (Jepang) tetap tidak akan mampu menolak bencana alam. Bahkan daerah yang menerapkan syari’ah Islam sekalipun (Aceh-Indonesia) juga tak bisa luput dari suatu bencana gempa dan tsunami.
Apa yang terjadi di Tohoku Jepang setahun yang lalu merupakan sebuah peringatan bagi masyarakat Jepang khususnya, dan masyarakat dunia pada umumnya untuk kembali sadar bahwa bencana alam dapat menimpa siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Oleh sebab itulah setiap orang harus siap jika suatu saat bencana alam datang, baik gempa maupun tsunami.
Bencana alam apapun yang terjadi pasti meninggalkan kesedihan dan mendatangkan banyak kerugian baik dari segi materi maupun non materi. Akan tetapi semua itu harus tetap diterima dengan ikhlas karena bagaimanapun juga hidup harus terus berjalan. Bencana alam hendaknya dijadikan sebagai sebuah peringatan dan pelajaran berharga bagi kita semua agar kita bisa hidup menjadi lebih lagi.

Hikmah
Lalu apa hikmah dibalik musibah yang terjadi di Tohoku Jepang?. Lantas apa yang harus dilakukan setelah musibah terjadi? Pertanyaan seperti itu pasti muncul ketika terjadi suatu bencana. Salah satu pelajaran (hikmah) yang dapat kita petik dari bencana tersebut adalah bencana alam sunnatullah yang terjadi akibat ulah manusia. Oleh sebab itulah, alam sebagai salah satu sahabat manusia harus diperlakukan sebagai saudara bukan dieksploitasi atau bahkan dirusak. Kerena jika itu dilakukan maka bencanalah yang akan datang, dan yang rugi tentu saja manusia itu sendiri.
Dalam Islam hal itu dijelaskan dalam sebuah firman Allah (Ar Ruum:41)
“telah tampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kambali (ke jalan yang benar)“.
Artinya bencana yang terjadi di Tohoku Jepang tersebut bisa saja terjadi karena rusaknya lingkungan alam di daerah tersebut akibat ulah tangan tak bertanggungjawab.
 Lalu apa yang harus dilakukan pasca terjadi bencana gempa dan tsunami Tohoku setelah satu tahun? Jawabnya tentu saja membangun kembali kota Tohoku menjadi sebuah daerah yang lebih maju dari pada sebelumnya. Mengenang satu tahun bencana Tohoku kita boleh bersedih, akan tetapi kesedihan tersebut tidak boleh berkepanjangan karena hal tersebut akan menghambat kemajuan.
Sebagai Negara yang rawan dengan bencana alam, baik itu gempa maupun tsunami Jepang selama ini telah membuktikan diri sebagai Negara yang mandiri. Mereka tidak pernah putus asa meskipun daerah mereka sering terjadi bencana. Malah dari berbagai bencana yang terjadi itulah Jepang banyak belajar dan akhirnya banyak menciptakan berbagai konsep dan teknologi canggih untuk mendeteksi terjadinya bencana, dengan harapan dapat meminimalisasi jatuhnya korban jiwa.
Masyarakat Jepang adalah masyarakat yang mandiri dalam hal penanganan bencana. Pengalaman adalah kunci utama yang dimiliki masyarakat Jepang. Karena sudah berpengalaman dilanda gempa dan tsunami, maka masyarakat Jepang dengan cepat dapat bangkit kembali. Pemulihan berbagai infrastruktur dilakukan secara cepat. Hal itu terlihat saat jalan tol sebagai sarana transportasi utama di Tohoku Expressway selesai hanya dalam waktu 11 hari seteleh tsunami.
Pemulihan sarana infrastruktur pasca bencana menjadi prioritas utama yang dibenahi karena tidak hanya berkontribusi pada transportasi dalam pengiriman barang dan logistik saat darurat, tetapi juga sebagai sarana memulihkan ekonomi Jepang. Selain itu salah satu hal yang sangat positif dilakukan Jepang saat bencana terjadi adalah dimana media massa di negeri Matahari Terbit menyiarkan berita-berita yang membangkitkan semangat, kebersamaan dan disiplin dalam menangani bencana.
Satu tahun mengenang gempa dan tsunami Tohoku bagi masyarakat Jepang tidak dijadikan sebagai sarana untuk meluapkan kesedihan, akan tetapi mengenang satu tahun bencana Tohoku dijadikan sebagai momentum untuk bangkit kembali dalam membangun kota tersebut menjadi lebih baik lagi. Hal yang patut dicontoh oleh masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia pada umumnya dalam penanganan bencana alam di Jepang adalah semangat, kebersamaan dan kerjasama masyarakat Jepang yang sangat tinggi.
Sehingga tidak mengherankan, meskipun terkenal sebagai Negara rawan bencana alam Jepang tetap menjadi Negara yang sangat maju. Bahkan bencana alam seolah sudah menjadi bagian hidup bagi masyarakat Jepang khususnya masyarakat di kota Tohoku. Sehingga meskipun bencana alam sering datang dan melahirkan banyak kerugian baik nyawa maupun materi. Namun hal itu tidak mengerdilkan hati dan semangat masyarkat Jepang untuk tetap eksis dalam membangun Negara tercintanya.
Dari apa yang diuraikan diatas, dapat ditarik satu buah benang merah bahwa bencana alam dapat datang kapan saja, dimana saja serta kepada siapa saja. Yang paling penting adalah bagaimana kita harus mensikapi bencana tersebut. Apakah dengan pasrah dan putus asa, atau dengan mengambil pelajaran dari bencana tersebut dan bangkit untuk membangun.
 Satu tahun mengenang bencana gempa dan tsunami Tohoku Jepang hendaknya dijadikan sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat dunia bagaimana cara menghadapi bencana alam dan serta bagaimana cara penanganannya. Karena belajar dari masyarakat Jepang sesungguhnya merupakan proses belajar bagaimana menjadi masyarakat yang mandiri dan menjadi Negara yang maju.


 “Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh .:tt:. “

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung di Blog Cah Kesesi Ayutea ini, Silakan tulis komentar untuk postingan ini.. :)

Mohon maaf.. spammer atau komentar dengan menyertakan link hidup akan saya hapus .. :)